Jumat, 17 Januari 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Proses persalinan merupakan suatu proses kompleks untuk menyelamatkan ibu maupun bayinya dengan menggunakan berbagai macam metode seperti persalinan pervaginam, persalinan dengan menggunakan alat dan persalinan operatif yaitu melalui Sectio Caesarea (SC). Metode-metode tersebut dikakukan dengan indikasi-indikasi khusus dengan satu tujuan yaitu menyelamatkan ibu maupun bayinya.
Data World Health Organization (WHO), menyatakan bahwa persalinan dengan SC adalah sekitar 10-15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang. Data tahun 2000 didapatkan bahwa angka kejadian SC di Cina, Mexico, Brazil lebih dari 35%. Angka kejadian terus mengalami peningkatan di Cina bagian selatan bahkan mencapai 60% pada tahun 2003 dan 56% pada tahun 2006. Begitu pula peningkatan yang sama terjadi di USA dari 24% pada tahun 2000 menjadi 31% pada tahun 2006.
Data di indonesia menunjukkan bahwa angka persalinan SC mengalami peningkatan setiap tahunnya. Data SDKI yang pertama yaitu tahun 1987 hingga yang kelima yaitu SDKI 2002-2003, terjadi peningkatan angka persalinan SC secara nasional berjumlah kurang dari 4% dari jumlah total persalinan. Persalinan dengan SC dianggap sebagai salah satu cara untuk
mewujudkan well born baby well health mother, tidak hanya bayi yang lahir hidup tapi harapan agar tumbuh kembangnya berkelanjutan dan tidak ada komplikasi yang dialami ibu, namun demikian persalinan dengan SC juga tidak bisa terlepas dari resiko komplikasi pada bayi maupun pada ibu (Manuaba, 2001)
Komplikasi akibat persalinan SC yang bisa terjadi pada bayi adalah bayi menjadi kurang aktif dan lebih banyak tidur akibat dari efek obat bius, sehingga akan mempengaruhi pemberian ASI. Bayi yang dilahirkan melalui SC sering mengalami gangguan pernafasan karena kelahiran yang terlalu cepat sehingga tidak mengalami adaptasi atau transisi antara dunia dalam rahim dan luar rahim ini menyebabkan nafas bayi terlalu cepat (Bobak et al., 2005). Angka mortalitas bayi dengan ibu yang melahirkan dengan proses SC berkisar antara 4 dan 7% (Wiknjosastro, 2007).
Komplikasi post SC juga terjadi pada ibu. Komplikasi yang timbul setelah dilakukannya SC pada ibu seperti nyeri pada daerah incisi, potensi terjadinya thrombosis, potensi terjadinya penurunan kemampuan fungsional, penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul, perdarahan, luka kandung kemih, infeksi, bengkak pada extremitas bawah, dan gangguan laktasi (Kurniawati, 2008).
Pasien Post SC akan mengeluh nyeri pada daerah incisi yang disebabkan oleh robeknya jaringan pada dinding perut dan dinding uterus. Prosedur pembedahan yang menambah rasa nyeri seperti infeksi, distensi, spasmus otot sekitar daerah torehan. Rasa nyeri yang dirasakan post SC akan menimbulkan berbagai masalah, salah satunya masalah laktasi. Rasa nyeri tersebut akan menyebabkan pasien menunda pemberian ASI sejak awal pada bayinya, karena rasa tidak nyaman/peningkatan intensitas nyeri setelah operasi (Purwandari, 2009).
Dampak nyeri post SC pada ibu yaitu mobilisasi terbatas, bonding attachment (ikatan kasih sayang) terganggu/tidak terpenuhi, Activity of Daily Living (ADL) terganggu, Inisiasi Menyusu Dini (IMD) tidak dapat terpenuhi karena adanya peningkatan intensitas nyeri apabila ibu bergerak jadi respon ibu terhadap bayi kurang, sehingga ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi dan mempunyai banyak manfaat bagi bayi maupun ibunya tidak dapat diberikan secara optimal (Afifah, 2009).
Hal tersebut juga akan berdampak pada bayi yang dilahirkan dengan SC. Dampak pada bayi adalah pemberian nutrisi untuk bayi berkurang karena tertundanya pemberian ASI sejak awal, respiratorik terganggu, dan daya imun rendah. Upaya-upaya untuk mengatasi nyeri pada ibu post SC adalah dengan menggunakan farmakologis dan nonfarmakologis. Penalaksanaan nyeri dengan farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obat ananalgesik narkotik baik secara intravena maupun intramuskuler. Pemberian secara intravena maupun intramuskuler misalnya dengan meperidin 75-100 mg atau dengan dengan morfin sulfat 10-15 mg, namun penggunaan analgesik yang secara terus menerus dapat mengakibatkan ketagihan obat (Cunningham et al, 2006).
Penatalaksanaan nyeri secara nonfarmakologis antara lain menggunakan sentuhan afektif, sentuhan terapeutik, akupresur, relaksasi dan tehnik imajinasi, distraksi, hipnosis,kompres dingin atau kompres hangat, stimulasi/message kutaneus,TENS (transcutaneous eletrical nervestimulation)dan relaksasi Benson (Potter dan Perry, 2006).
Relaksasi Benson adalah salah satu cara untuk mengurangi nyeri dengan mengalihkan perhatian kepada relaksasi sehingga kesadaran klien terhadap nyeri-nya berkurang, relaksasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan relaksasi yang diberikan dengan kepercayaan yang dimiliki klien. Relaksasi Benson pada penelitian ini penatalaksanaannya menggunakan kepercayaan orang-orang muslim, dimana klien akan diminta menyebutkan Nama Allah secara berulang-ulang dengan sikap yang khusyu’.
Pelatihan relaksasi Benson cukup efektif untuk memunculkan keadaan tenang dan relaks dimana gelombang otak mulai melambat akhirnya membuat seseorang dapat istirahat dengan tenang. Hal ini terjadi ketika subjek mulai merebahkan diri dan mengikuti instruksi relaksasi yaitu pada tahap pengendoran otot dari bagian kepala hingga bagian kaki. Selanjutnya dalam keadaan relaks mulai untuk memejamkan mata, saat tersebut frekuensi gelombang otak yang muncul mulai melambat, dan menjadi lebih teratur.  Tahap ini subjek mulai merasakan relaks dan mengikuti secara pasif keadaan relaks tersebut sehingga menekan rasa tegang dan nyeri (Datak, 2008).
Keuntungan dari relaksasi Benson selain mendapatkan manfaat darirelaksasi juga mendapatkan kemanfaatan dari penggunaan keyakinan seperti menambah keimanan, dan kemungkinan akan mendapatkan pengalamanpengalaman transendensi. Individu yang mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang, cemas, insomnia, dan nyeri (Datak, 2008).
Dalam memberikan pelayanan kesehatan memerlukan asuhan keperawatan yang tepat, disamping itu juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga akibat dan komplikasi dapat dihindari seperti memberi penjelasan tentang SC antara lain: penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, perawatan, dan akibat yang didapat kalau pengobatan tidak dilakukan.
A.     Tujuan
1.     Tujuan Umum
tujuan umum dari penulisan laporan seminar kasus ini, untuk mengetahuai gambaran umum tentang asuhan keperawatan dengan SC menggunakan pendekatan proses keperawatan dan memperoleh pengalaman dalam penyusunan laporan seminar kasus.
2.     Tujuan Khusus
a.       Melakukan pengkajian pada pasien SC
b.      Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien SC
c.       Menyusun rencana keperawatan pada pasien SC
d.      Melakukan tindakan keperawatan pada pasien SC
e.       Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien SC
f.        Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien SC
B.     Metode penulisan
metode yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah metode deskriftif yaitu suatu metode ilmiah yang menggambarkan tentang asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan pada pasien dengan hepatitis. Adapaun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1.      Wawancara
Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan teknik tanya jawab dengan pasien dan keluarga dalam hal identitas, alasan dirawat, keluhan utama, riwayat penyakit tertentu dan data-data lain yang diperlukan.
2.      Observasi
Pengumpulan data dengan cara mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada pasien baik secara fisik maupun sikologis.
3.      Pemeriksaan fisik
Pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi pada pasien guna mendapatkan data yang objektif tentang keadaan pasien secara umum maupun khusus.
4.      Studi dokumentasi
Pengumpulan data dengan cara menggunakan bukti-bukti tertulis antara lain catatan medis catatan perawat dan data penunjang antara lain hasil pemeriksaan labortaorium.
5.      Studi kepustakaan
Studi kepustakaan diperlukan untuk memudahkan dalam teknik pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai referensi atau acuan dalam melakukan pengumpulan data.

C.      Sistematika penulisan
Untuk memudahkan dalam pemahaman laporan studi kasus ini, maka laporan studi kasus ini disusun dalam 4 BAB dengan Sub-sub yaitu:
a.       BAB I memuat tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan.
b.      BAB II memuat tentang kajian teori.
c.       BAB III memuat tentang tinjauan kasus yang melipiti pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
d.      BAB IV merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.


















BABA II
KAJIAN TEORI

KONSEP DASAR PENYAKIT
A.     Pengertian
Kelahiran sesarea adalah alternatif dari kelahiran vagina bila keamanan ibu atau janin terganggu (Marilyn. E. Doengoes).
Persalinan sesarea adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histrotomi) (Cunningham, Mc. Donald. Gant)
Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500gram. ( Wiknjosastro,2005).
Operasi caesarea adalah kelahiran janin cukup bulan hidup melalui insisi sayatan) pada dinding perut dan rahim bagian depan.
Seksio sesarria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahaim (Marjoen, 2001).
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa seksio sesaria adalah suatu tindakan melahirkan janin melalui suatu pembedahan dengan cara melakukan insisi pada dinding perut dan dinding rahim.
B.     Klasifikasi
Jenis–jenis seksio sesarea :
1.      Seksio sesarea klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm.
2.      Seksio sesarea ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
Jenis seksio sesarea yang lain antara lain sebagai berikut:
1.      Seksio sesarea abdominalis
a.       Seksio sesarea transperitonealis :  
b.      seksio sesarea ismika atau profunda dengan insisi pada segmen bawah rahim.
c.       Seksio sesarea klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.
d.      Seksio sesarea ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parialis, dengan demikian tidak membuka cavum abdominal.
Ekstra peritoneal SC dilakukan bila presentasi kepala bayi sudah terdesak di PA. Teknik ini dilakukan untuk meminimalkan trauma saat kelahiran bayi. Peritoneum perietalis adalah membrane serosa halus yang membentuk dinding yang melapisi dinding cavum abdominal serta pervik dan juga membungkus organ-organ yang ada di dalamnya.
2.      Seksio sesarea vaginalis
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 
a.       Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kroning.
b.      Sayatan melintang (trasversal) menurut Kern.
c.       Sayatan huruf T (T-incision).
C.      Etiologi
1.     Etiologi yang berasal dari ibu
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, Plasenta previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I – II, komplikasi kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang disertai penyakit (jantung, DM), gangguan perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya).
2.     Etiologi yang berasal dari janin
Fetal distress/gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau forseps ekstraksi.
D.     Tehnik Seksio Sesarea
1.      Teknik Seksio Sesarea Transperitonealis Profunda
Daver Catheter di pasang dan wanita berbaring dalam letak tredelenburg ringan. Diadakan insisi pada dinding perut pada garis tengah dari simfisis sampai beberapa cm di bawah pusat. Setelah peritorium dibuka, dipasang spekulum perut dan lapangan operasi dipisahkan dari rongga perut dengan satu kasa panjang atau lebih. Peritoneum pada dinding uterus depan dan bawah dipegang dengan piset, plikovesitas. Uterina dibuka dan insisi diteruskan melintang jauh ke lateral. Kemudian kandung kencing depan uterus didorong ke bawah dengan jari. Pada segmen bawah uterus yang sudah tidak ditutup lagi oleh peritoneum serta kandung kencing yang biasanya sudah menipis, diadakan insisi melintang selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri agak melengkung ke atas untuk menghindari terbukanya cabang-cabang arteria uterine. Karena uterus dalam kehamilan tidak jarang memutar ke kanan, sebelum membuat insisi, posisi uterus diperiksa dahulu dengan memperhatikan ligamenta rocundo kanan dan kiri, di tengah-tengah insisi diteruskan sampai dinding uterus terbuka dan ketuban tampak, kemudian luka yang terakhir ini dilebarkan dengan gunting berujung tumpul mengikuti sayatan yang telah dibuat terlebih dahulu. Sekarang ketuban dipecahkan dan air ketuban yang keluar diisap. Kemudian spekulum perut diangkat dan lengan dimasukkan ke dalam uterus di belakang kepala janin dan dengan memegang kepala dari belakang dengan jari-jari tangan penolong. Diusahakan lahirnya kepala melalui lubang insisi. Jika dialami kesulitan untuk melahirkan kepala janin lubang insisi. Jika dialami ksulitan untuk melahirkan kepala janin dengan tangan, dapat dipasang dengan cunan boerma. Sesudah kepala janin badan terus dilahirkan muka dan mulut terus dibersihkan. Tali pusat dipotong dan bayi diserahkan pada orang lain untuk diurus. Diberikan suntikan 10 satuan oksitosin dalam dinding uterus/ intravena, pinggir luka insisi dipegang dengan beberapa Cunam ovum dan plasenta serta selaput ketuban dikeluarkan secara manual. Tangan untuk sementara dimasukkan ke dalam rongga uterus untuk mempermudah jahitan luka, tangan ini diangkat sebelum luka uterus ditutp sama seklai. Jahitan otot uterus dilakukan dalam dua lapisan yaitu lapisan pertama terdiri atas kahitan simpul dengan cagut dan dimulai dari ujung yang satu ke ujung yang lain (jangan mengikutsertakan desidua), lapisan kedua terdiri atas jahitan menerus sehingga luka pada miomtrium tertutup rapi.
Keuntungan pembedahan ini:
a.       Perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak
b.      Bahaya peritonitis tidak besar
c.       Parut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptura uteri dikemudian hari tidak besar, karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami konraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
2.      Teknik seksio sesarea transperitonial profunda
a.       Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama.
b.      Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritonei terbuka.
c.       Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.
d.      Dibuat bladder-falp yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterine) di depan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Plika vesikouterine ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah, dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing.
e.       Dibuat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterine tadi secara tajam dengan pisau bedah ± 2 cm, kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk operator. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (Transversal) sesuai cara Kerr, atau membujur (segital) sesuai cara kronig.
f.        Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan, janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Tali pusat dijepit dan dipotong, plasenta dilahirkan secara manual. Ke dalam otot rahim inra mural disuntikkan 10 U oksitosin.
Luka dinding rahim dijahit.
Lapisan I : dijahit jelujur, pada endometrium dan miometrium
Lapisan II : dijahit jelujur hanya pada miometrium saja
Lapisan III : dijahit jelujur pada plika vesikouterine
g.       Setelah dinding rahim selesai djahit, kedua adneksa dieksplorasi
h.      Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. (Ilmu bedah kebidanan, 2000).

3.      Teknik Seksio Sesarea Korporal
Setelah dinding perut dan peritoneum pariatale terbuka pada gari lengan dipasang beberapa kain kasa panjang antara dinding perut dan dinding uterus untuk mencegah masuknya air ketuban dan darah ke rongga perut. Diadakan insisi pada bagian tengah korpus uteri sepanjang 10-12 cm dengan ujung bawah di atas batas plika vegika uterine. Diadakan lubang kecil pada batang kantong ketuban untuk menghisap air ketuban sebanyak mungkin, lubang ini kemudian dilebarkan dan janin dilahirkan dengan tarikan pada kakinya. Setelah anak lahir korpus uteri dapat dilahirkan dari rongga perut untuk memudahkan tindakan-tindakan selanjutnya. Sekarang diberikan suntikan 10 satuan oksitosin dalam dinding uterus intravena dan plasenta serta selaput ketuban dikeluarkan secara manual kemudian dinding uterus ditutup dengan jahitan catgut yang kuat dalam dua lapisan, lapisan pertama terdiri atas jahitan simpul dan kedua jahitan menerus. Selanjutnya diadakan jahitan menerus dengan catgut lebih tipis yang mengikutsertakan peritoneum serta bagian luar miomtrium dan yang menutupi jahitan yang terlebih dahulu dengan rapi. Akhirnya dinding perut ditutup secara biasa.(Ilmu Kebidanan, 2002)
4.      Teknik seksio sesarea klasik
1.      Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama
2.      Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ± 12 cm sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritonial terbuka.
3.      Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi
4.      Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atasa rahim (SAR) kemudian diperlebar secara sagital dengan gunting.
5.      Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundus utri. Setelah janin lahir eluruhnya, tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit.
6.      Plasenta dilahirkan secara manual. Disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural.
7.      Luka insisi SAR dijahit kembali
Lapisan I : endometrium berama miometrium dijahit ecara jelujur dengan benang catgut kronik
Lapisan II : hanya miometrium aja dijahit ecara simopul (berhubung otot SAR angat tebal) dengan catgut kronik
Lapian III : peritoneum aja, dijahit secara simpul dengan benang catgut biasa.
8.      Setelah dinding selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi
9.      Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. (Ilmu bedah kebidanan, 2000)
5.      Teknik seksio histerektomi
1.      Stetelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan hemostasis pada insisi dinding rahim, cukup dengan jahitan jelujur atau simpul.
2.      Untuk memudahkan histerektomi, rahim boleh dikeluarkan dari rongga pelvis
3.      Mula-mula ligamentum rotundum dijepit dengan cunam kocher dan cunam oschner kemudian dipotong sedekat mungkin dengan rahim, dan jaringan yang sudah dipotong diligasi dengan benang catgut kronik no.0 bladder flap yang telah dibuat pada waktu seksio sesarea transperitoneal profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral. Pada ligamentum latum belakang lubang dngan jari telunjuk tangan kiri di bawah adneksa dari arah belakang. Dengan cara ini ureter akan terhindar dari kemungkinan terpotong.
4.      Melalui lubang pada ligamentum ini, tuba faloppi, ligamnetum utero ovarika, dan pembuluh darah dalam jaringan terebut dijepit dengan 2 cunam oscher lengkung dan di sisi rahim dengan cunam kocher. Jaringan diantaranya kemudian digunting dengan gunting Mayo. Jaringan yang terpotong diikat dengan jahitan transfiks untuk hemotasis dengan catgut no. 0
5.      Jaringan ligamentum latum yang sebagian besar adalah avaskuler dipotong secara tajam ke arah serviks. Setelah pemotongan ligamentum latum sampai di daerah serviks, kandung kencing disisihkan jauh ke bawah dan samping
6.      Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservikal dilakukan panjepitan dengan cunam oscher lengkung secara ganda, dan pada tempat yang ama di sisi rahim dijepit dengan cunam kocher luurs. Kemudian jaringan diantaranya digunting dengan gunting Mayo. Tindakan ini dilakukan dalam beberapa tahap sehingga ligamentum kardinale terpotong seluruhnya. Puntung ligamentum kardinale dijahit transfiks secara ganda dengan benang catgut khronik no. 0
7.      Demikian juga ligamentum sakro-uterine kiri dan kanan dipotong dengan cara yang sama, dan iligasi secara transfiks dengan benang catgut khronik no.0
8.      Setelah mencapai di atas dinding vagina serviks, pada sisi depan serviks dibuat irisan sagital dengan pisau, kemudian melalui insisi tersebut dinding vagina dijepit engan cunam oscher melingkari serviks dan dinding vagina dipotong tahap demi tahap. Pemotongan dinding vagina dapat dilakukan dengan gunting atau pisau. Rahim akhirnya dapat diangkat.
9.      Puntung vagina dijepit dengan beberapa cunm kocher untuk hemostasis. Mula-mula puntung kedua ligamentum kardinale dijahit
10.  kan pada ujung kiri dan kanan puntung vagina, sehingga terjadi hemostasis pada kedua ujung puntung vagina. Puntung vagina dijahit secara jelujur untuk hemostasis dengancatgut khromik. Puntung adneksa yang telah dipotong dapat dijahitkan digantungkan pada puntung vagina, asalkan tidak terlalu kencang. Akhirnya puntung vagina ditutup dengan retro-peritonealisasi dengan menutupkan bladder flap pada sisi belakang puntung vagina.
11.  Setelah rongga perut dibersihkan dari sisa darah, luka perut ditutup kembali lapis demi lapis. (Ilmu bedah kebidanan, 2000)
Dalam melakukan seksio sesarea perlu diperhatikan beberapa hal:
1.      Seksio sesarea efektif
Seksio searea ini direncanakan lebih dahulu karena sudah diketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan itu.
a.       Keuntungannya adalah bahwa waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan segala persiapan dapat dilakukan dengan baik.
b.      Kerugiannya adalah karena persalinan belum dimulai, segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan dan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perarahan karena uterus belum mulai dengan kontraksinya. Pada umumnya keuntungan lebih besar dari kerugian.
2.      Anestesia
Anestesia umumnya mempunyai pengaruh positif degresif pada pusat pernafasan janin. Sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat diatasi dengan mudah, selain itu ada pengaruh terhadap tonus uterus sehingga kadang-kadang timbul perdarahan post partum karena atonia uteri. Anestesia spinal aman buat janin. Akan tetapi selalu ada kemungkinan bahwa tekanan darah penderita menurun dengan akibat yang buruk bagi ibu dan janin. Cara yang paling aman adalah anestesia lokal, akan tetapi tidak selalu akan dapat dilakukan berhubungan dengan sikap mental penderita. Pemutusan untuk dilakukan anestesi total setelah anestesi spina. Di lihat rentang dari injeksi: tunggu 10-15 menit apakah klien merasa sakit atau tidak. Apabila dosis terlalu tinggi diberikan dapat menyebabkan sesak nafas (sulit bernafas) sehingga langsung diputuskan untuk anestesi total.
3.      Transfusi darah
Pada umumnya perdarahan pada seksio sesarea lebih banyak dari pada persalinan pervagina. Perdarahan tersebut disebabkan oleh insisi pada uterus, ketika pelepasan plasenta, mungkin juga karena terjadinya atonia uteri post partum. Berhubung dengan itu pada tiap-tiap seksio sesarea perlu diadakan persediaan darah.
4.      Pemberian
Walaupun pemberian antibiotik sesudah seksio sesarea efektif dapat dipersonalkan, namun pada umumnya pemberian dianjurkan. (Ilmu Kebidanan, 2002)
E.      Patofisiologi
Terjadi kelainan pada ibu dan janin yang menyebabkan tidak mungkin dilakukannya persalinan pervaginam, sehingga dianjurkan untuk dilakukannya persalinan dengan tindakan SC.


Cefalo Pelvic Disproposi


Sectio Sesaria 


Post Operasi sc

Post Anastesi Spinal

Penurunan saraf  ekstermitas Bawah

Penurunan saraf otonom

Luka Post Operasi

Jaringan terputus

Merangsang area sensorik motorik

Nyeri

Jaringan terbuka

Proteksi kurang

Invasi bakteri

Resti
infeksi

Uterus

Kontraksi uterus 

Adekuat 

Tidak Adekuat  

Pengelupasan desidua  

Lochea  

Atonia uretri  

Perdarahan  

Hipovolemik   

Anemi 

Kekurangan volume cairan    

HbO2 menurun  

Metabolisme anaerob  

Suplai O2 ke jaringan menurun

Nekrose

Laktasi 

Progesteron dan esterogen menurun

Psikologis
(Taking in, taking hold, taking go)

Perubahan
psikologis

Kebutuhan meningkat 

Penambahan anggota baru

Perubahan pola peran

Prolaktin meningkat

Pertumbuhan kelenjar susu terangsang

Isapan bayi

Oksitosin meningkat

Ejeksi ASI

Nifas  

Kelumpuhan

Mobilitas

Penurunan saraf vegetatif

Penurunan peristaltik usus

Resiko Konstipasi

Pathways

Cemas
Text Box: 23



















Menyusui tidak efektif

Kurang pengetahuan perawatan payudara

Inefektif laktasi

ASI tidak keluar

Tidak adekuat

Efektif
laktasi

Adekuat

ASI keluar

Intoleransi aktivitas 

Kelelahan

Asam laktat meningkat  



F.      Komplikasi
1.      Infeksi puerperalis
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dsb.
2.      Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
3.      Komplikasi-komplikasi lain
Seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
4.      Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik.

G.     Penatalaksanaan
Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea :
a.       Analgesia
-          Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin (intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.
-          Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan adalah 50 mg.
-          Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg Meperidin.
-          Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.
b.      Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.
c.       Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.
d.      Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.
e.       Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawatan dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali pada hari kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan.
f.        Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.
g.       Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.
h.      Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.
i.         Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang lain.
H.    Prognosis
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun.
Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna angka kematian 4-7%. (Mochtar R, 1998).

I.       Anjuran Operasi
-          Dianjurkan jangan hamil selama lebih kurang satu tahun dengan memakai kontrasepsi
-          Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
-          Yang dianut adalah “Once a cesarean not always a cesarean” kecuali pada panggul sempit atau disproposi segala pelvik. (Mochtar R, 1998)



KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1.     PENGKAJIAN
a.       Identitas Pasien
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
b.      Data Riwayat Kesehatan
-          Riwayat kesehatan sekarang.
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi.
-          Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang, Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (Plasenta previa).
-          Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.
c.       Data Sosial Ekonomi
Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, akan tetapi kemungkinan dapat lebih sering terjadi pada penderita malnutrisi dengan sosial ekonomi rendah.
d.      Data Psikologis
-          Pasien biasanya dalam keadaan labil.
-          Pasien biasanya cemas akan keadaan seksualitasnya.
-          Harga diri pasien terganggu
e.       Pemeriksaan Penunjang
-          USG, untuk menetukan letak impiantasi plasenta.
-          Pemeriksaan hemoglobin
-          Pemeriksaan Hematokrit
2.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Transisi Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan atau adanya peningkatan anggota keluarga (Doengoes,2001).
b.      Gangguan nyaman : nyeri akut berhubungan dengan trauma pembedahan (Doengoes,2001).
c.       Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi (Doengoes,2001).
d.      Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/ kulit rusak (Doengoes,2001)
e.       Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot
f.        Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan informasi, tidak mengenal sumber-sumber (Doengoes,2001)
g.       Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi, penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidatnyamana fisik (Doengoes,2001).

3.     INTERVENSI DAN RASIONAL
a.      Dx 1 : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi / peningkatan anggota keluarga.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat menerima perubahan dalam keluarga dengan anggota barunya.
Kriteria hasil :
a)     Menggendong bayi, bila kondisi memungkinkan
b)     Mendemontrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat
c)      Mulai secara aktif mengikuti perawatan bayi baru lahir dengan cepat.
Intervensi :
a)     Anjurkan pasien untuk menggendong, menyetuh dan memeriksa bayi, tergantung pada kondisi pasien dan bayi, bantu sesuai kebutuhan.
Rasional : Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga terjadi karena ibu dan bayi secara emosional dan menerima isyarat satu sama lain, yang memulai kedekatan dan proses pengenalan.
b)     Berikan kesempatan untuk ayah / pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi dan Bantu dalam perawatan bayi sesuai kemungkinan situasi.
Rasional : membantu memudahkan ikatan / kedekatan diantara ayah dan bayi. Memberikan kesempatan untuk ibu memvalidasi realitas situasi dan bayi baru lahir.
c)      Observasi dan catat interaksi keluarga bayi, perhatikan perilaku yang dianggap menggandakan dan kedekatan dalam budaya tertentu.
Rasional : pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara menggunakan ujung jari.
d)     Diskusikan kebutuhan kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. Perhatikan kenormalan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu.
Rasional : membantu pasien dan pasangan memahami makna pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbedaan diperkirakan.
e)     Sambut keluarga dan sibling untuk kunjungan sifat segera bila kondisi ibu atau bayi memungkinkan.
Rasional : meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu sibling memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru kedalam struktur keluarga.
f)       Berikan informasi, sesuai kebutuhan, keamanan dan kondisi bayi. Dukungan pasangan sesuai kebutuhan.
Rasional : membantu pasangan untuk memproses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan, khususnya bila periode pengenalan awal telah terlambat.
g)     Jawab pertanyaan pasien mengenai protokol, perawatan selama periode pasca kelahiran.
Rasional : informasi menghilangkan ansietas yang dapat mengganguikatan atau mengakibatkan absorpsi dari pada perhatian terhadap bayi baru lahir.
b.     Dx 2 : Ketidaknyamanan : nyeri, akut berhubungan dengan trauma pembedahan.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan ketidaknyamanan ; nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
a)     Mengungkapkan kekurangan rasa nyeri.
b)     Tampak rileks mampu tidur.
c)      Skala nyeri 1-3
Intervensi :
a)     Tentukan lokasi dan karakteristik ketidaknyamanan perhatikan isyarat verbal dan non verbal seperti meringis.
Rasional : pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri paska operasi dari terjadinya komplikasi.
b)     Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat.
Rasional : meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkenaan dengan ansietas.
c)      Evaluasi tekanan darah dan nadi ; perhatikan perubahan prilaku.
Rasional : pada banyak pasien, nyeri dapat menyebabkan gelisah, serta tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapat menurunkan tekanan darah.
d)     Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya atau karakteristik nyeri.
Rasional : selama 12 jam pertama paska partum, kontraksi uterus kuat dan teratur dan ini berlanjut 2 – 3 hari berikutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya dikurangi faktor-faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipara, overdistersi uterus.
e)     Ubah posisi pasien, kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosokan punggung dan gunakan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi.
Rasional : merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera.
f)       Lakukan nafas dalam dengan menggunakan prosedur- prosedur pembebasan dengan tepat 30 menit setelah pemberian analgesik.
Rasional : nafas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Pembebasan menurunkan regangan dan tegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen.
g)     Anjurkan ambulasi dini. Anjurkan menghindari makanan atau cairan berbentuk gas; misal : kacang-kacangan, kol, minuman karbonat.
Rasional : menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik untuk menghilangkan ketidaknyamanan karena akumulasi gas.
h)     Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh. Memudahkan berkemih periodik setelah pengangkatan kateter indwelling.
Rasional : kembali fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari dan overdistensi kandung kemih menciptakan perasaan dan ketidaknyamanan.
c.        Dx 3 : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan ansietas dapat berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
-          Mengungkapkan perasaan ansietas
-          Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun
-          Kelihatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar.
Intervensi :
a)     Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan
Rasional : memberikan dukungan emosional; dapat mendorong mengungkapkan masalah.
b)     Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber dari masalah.
Rasional Mendorong pasien atau pasangan untuk mengungkapkan keluhan atau harapan yang tidak terpenuhi dalam proses ikatan/menjadi orangtua.
c)      Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping baru yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.
Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peran baru, mengurangi perasaan ansietas.
a.       Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi.
Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan tingkat ansietas.
b.      Mulai kontak antara pasien/pasangan dengan baik sesegera mungkin.
Rasional : mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi, takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.
d.     Dx 4 : Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien tidak lagi mengungkapkan perasaan negatif diri dan situasi
Kriteria hasil :
a)     Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang mencetuskan situasi saat ini.
b)     Mengekspresikan diri yang positif
Intervensi :
a)     Tentukan respon emosional pasien / pasangan terhadap kelahiran sesarea.
Rasional : kedua anggota pasangan mungkin mengalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesarea meskipun bayi sehat, orangtua sering berduka dan merasa kehilangan karena tidak mengalami kelahiran pervagina sesuai yang diperkirakan.
a)     Tinjau ulang partisipasi pasien/pasangan dan peran dalam pengalaman kelahiran. Identifikasi perilaku positif selama proses prenatal dan antepartal.
Rasional : respon berduka dapat berkurang bila ibu dan ayah mampu saling membagi akan pengalaman kelahiran, sebagai dapat membantu menghindari rasa bersalah.
b)     Tekankan  kemiripan antara kelahira  sesarea dan vagina. Sampaikan sifat positif terhadap kelahiran sesarea. Dan atur perawatan pasca patum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada pasien setelah kelahiran vagina.
Rasional: pasien dapat merubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaiman persepsinya tentang kesehatannya / penyakitnya berdasarkan pada sikap professional.
e.      Dx 5 : Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / kulit rusak.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
-          Luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan.
-          Bebas dari infeksi, tidak demam, urin jernih kuning pucat.
Intervensi :
a)     Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran, pembalut perineal dan linen terkontaminasi dengan tepat.
Rasional : membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi.
b)     Tinjau ulang hemogolobin / hematokrit pranantal ; perhatikan adanya kondisi yang mempredisposisikan pasien pada infeksi pasca operasi.
Rasional : anemia, diabetes dan persalinan yang lama sebelum kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi dan memperlambat penyembahan.
c)      Kaji status nutrisi pasien. Perhatikan penampilan rambut, kuku jari, kulit dan sebagainya Perhatikan berat badan sebelum hamil dan penambahan berat badan prenatal.
Rasional : pasien yang berat badan 20% dibawah berat badan normal atau yang anemia atau yang malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pascapartum dan dapat memerlukan diet khusus.
d)     Dorong masukkan cairan oral dan diet tinggi protein, vitamin C dan besi.
Rasional : mencegah dehidrasi ; memaksimalkan volume, sirkulasi dan aliran urin, protein dan vitamin C diperlukan untuk pembentukan kolagen, besi diperlukan untuk sintesi hemoglobin.
e)     Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Lepasnya balutan sesuai indikasi.
Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran sesarea membantu melindungi luka dari cedera atau kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma.
f)       Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan odem, nyeri, eksudat atau gangguan penyatuan.
Rasional : tanda-tanda ini menandakan infeksi luka biasanya disebabkan oleh steptococus.
g)     Bantu sesuai kebutuhan pada pengangkatan jahitan kulit, atau klips.
Rasional : insisi biasanya sudah cukup membaik untuk dilakukan pengangkatan jahitan pada hari ke 4 / 5.
h)     Dorong pasien untuk mandi shower dengan menggunakan air hangat setiap hari.
Rasional :Mandi shower biasanya diizinkan setelah hari kedua setelah kelahiran sesarea, meningkatkan hiegenis dan dapat merangsang sirkulasi atau penyembuhan luka.
i)       Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.
Rasional : Demam paska operasi hari ketiga, leucositosis dan tachicardia menunjukkan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,3 C dalam 24 jam pertama sangat mengindentifikasikan infeksi.
f.        Dx 6 : Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam, diharapkan tidak terjadi konstipasi, tonus otot meningkat, dengan
kriteria hasil :
-          Pasien mampu BAB
Intervensi :
a.       Auskultasi terhadap adanya bising usus pada keempat kuadran setiap 4 jam setelah kelahiran sesarea
Rasional : Mengevaluasi fungsi usus, adanya diastasis rektil berat menurunkan tonus otot abdomen yang diperlukan untuk upaya mengejan selama pengosongan
b.      Anjurkan ibu untuk minum yang adekuat
Rasional : Cairan berfungsi untuk melunakkan feses
c.       Anjurkan penggunaan posisi rekumben lateral kiri
Rasional : memungkinkan gas meningkatkan dari kolon desenden ke sigmoid, memudahkan pengeluaran.
d.      Beri makanan yang tinggi serat
Rasional : makan tinggi serat berguna untuk merangsang enzim – enzim pencernaan
e.       Anjurkan ibu untuk mobilisasi secara bertahap dan teratur
Rasional : Mobilisasi dapat melatih otot – otot abdomen, sehingga terjadi peningkatan tonus otot
g.      Dx 7 : Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan informasi, tidak mengenal sumber-sumber
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan pengetahuan pasien bertambah akan kondisi yang dialaminya sekarang, dengan kriteria hasil : Pasien menyatakn paham akan perubahan yang terjadi terhadap kondisinya.
Intervensi :
a.       Kaji pengetahuan ibu tentang cara perawatan pasca bedah seksio sesarea
Rasional: Untuk memudahkan dalam pemberian informasi selanjutnya
b.      Beri bimbingan dan demonstrasikan perawatan payudara serta cara memberi ASI yang benar
Rasional : Dengan belajar dan latihan, ibu akan mengetahui cara perawatan pasca bedah
c.       Jelaskan hal – hal yang perlu dilaporkan kepada dokter atau perawat setelah melahirkan
Rasional : Untuk menangani masalah yang dihadapi ibu secara dini dan menghindari kepanikan terhadap perubahan kondisi pasien
d.      Jelaskan program pengobatan yang didapat pasien selama ini, meliputi nama obat, dosis, waktu, cara pemberian, tujuan dan efek samping dan program lain yang berhubungan dengan pasien seperti jadwal perawatan luka, jadwal kontrol
Rasional : Agar pasien lebih kooperatif dalam memberikan tindakan keperawatan pada dirinya
e.       Jelaskan kepada ibu tentang pentingnya menjaga kondisi tubuh dengan mempertahankan nutrisi dan kebersihan ibu
Rasional : Untuk mempercepat proses penyembuhan dan mencegah terjadinya komplikasi
h.     Dx 8 : Kurang perawatan diri berhubungan dengan efek-efek anestesi, penurunan kekuatan dan ketahanan, ketidaknyamana fisik
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ... x 24 jam diharapkan ibu dapat memenuhi ADLnya dengan mandiri, dengan kriteria hasil :
-          Ibu dapat melakukan perawatan terhadap dirinya
-          Kebutuhan ADL terpenuhi
Intervensi :
a.       Bimbing dan demonstrasikan pada ibu tentang bagaimana cara melakukan perawatan diri
Rasional : Bimbingan dan demonstrasi yang benar dapat memberi contoh bagi ibu untuk dapat melakukannya dengan baik bila telah pulang dari rumah sakit
b.      Beri bantuan sesuai dengan kebutuhan (misalnya : perawatan mulut, mandi dan vulva hygiene)
Rasional : Bantuan tindakan dapat membantu ibu dalam memenuhi perawatan dirinya yang tidak mampu dilakukan secara mandiri.

N.     Evaluasi
1.      Dx 1 : pasien dapat menerima perubahan dalam keluarga dengan anggota barunya.
2.      Dx 2 : ketidaknyamanan ; nyeri berkurang atau hilang.
3.      Dx 3 : ansietas dapat berkurang atau hilang.
4.      Dx 4 : pasien tidak lagi mengungkapkan perasaan negatif diri dan situasi
5.      Dx 5 : tidak terjadi infeksi
6.      Dx 6 : pasien mampu BAB dan tonus otot meningkat
7.      Dx 7 : pengetahuan pasien bertambah akan kondisi yang dialaminya sekarang
8.      Dx 8 : pasien dapat melakukan perawatan diri dengan mandiri







DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta : Media Aesculapius
Prawirohardjo, S. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Anonim, 2005. Kumpulan Asuhan Keperawatan Maternitas. Diakses pada www.google.com tanggal 2 Desember 2010
Istyandari, 2003. Asuhan Keperawatan pada Pre dan Post Op Secsio Cesarea. Diakses pada www.ilmukeperawatan.com tanggal 2 Desember 2010













BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. “M” DENGAN POST OPERASI SECTIO CAESAREA HARI KE-3 DI RUANG PERINATAL CARE
RSUD SALEWANGANG MAROS

A.     Pengkajian
Biodata
1.      Identitas pasien
Nama                                 Ny “M”
Umur                              :    27 tahun
Jenis Kelamin                    Perempuan
Agama                            :    Islam
Suku/ Bangsa                   Bugis/Indonesia
Pendidikan terakhir         SMP
Pekerjaan                       :    IRT
No. Med. Reg                     139997
Tanggal MRS                     13-11-2013 Jam 10.30 WITA
Tanggal Operasi               14 -11-2013 Jam 14.00 WITA
Tanggal Pengkajian          16 - 11 – 2013 Jam 09.00 WITA
Diagnosa medis                Post Op Seksio Sesarae (hari ke-4)
Alamat                                Jl. Poros Kariango Ds. Tenrigangkae Mandai   
2.      Identitas suami
Nama                                 Tn. “L“
Umur                               :    30 tahun
Pendidikan Terakhir     :    PT
Pekerjaan                       :    Swasta
Agama                             :    Islam
Suku/ Bangsa                   Bugis/ Indonesia
Alamat                               Jl. Poros Kariango Ds. Tenrigangkae Mandai  
B.     Riwayat Keluhan
1.      Keluhan utama.
Rasa nyeri pada daerah luka operasi
2.      Riwayat keluhan utama.
Nyeri pada daerah luka operasi dibagian perut (region umbilicalis) dirasakan setelah dilakukan operasi pada tanggal 14 November 2013. Nyeri dirasakan pasien saat melakukan pergerakan atau mobilisasi, nyeri meningkat saat pasien mengejan dan berkurang saat pasien berbaring. Nyeri terlokalisasi pada daerah luka operasi, tidak difus (tidak menyebar), dan berada pada skala 5 (sedang) pada rentang skala (0-10). Durasi nyeri sekitar 1-2 menit, hilang timbul. Pasien di operasi seksio sesarae karena adanya indikasi ketuban pecah dini karena keluar darah bercampur lendir
Riwayat kesehatan keluarga.
Di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit Hypertensi, jantung, paru-paru, ginjal, hati, diabetes.
3.      Riwayat reproduksi
Menarche                 1 tahun
Siklus haid               Teratur 28-30 hari
Lamanya haid          3-7 sehari
Banyaknya               3 x ganti pembalut
4.      Riwayat kehamilan dan persalinan serta nifas
No
Tahun
Tipe persalinan
Penolong
Jenis kelamin
BBL
Keadaan Bayin Balih
1
2010
Normal
Bidan
P
38500
Normal
2
2013
SC
Dokter
P
3200
Normal
3









6.    Riwayat persalinan sekarang
Kala 1 :  Sejak tanggal 13-11-2013 jam 10.30 pasien merasakan nyeri perut bagian bawah melingkar sampai belakang, nyeri dirasakan hilang timbul, pengeluaran lendir bercampur darah lewat jalan lahir. Dan tanggal 13/11/2013 jam 14.10 di putuskan untuk SC.
Kala 2  :  Jam 10.25 bayi lahir section caesarea dengan letak kepala. Lahir bayi perempuan tanggal 13/7/2013 jam 14.25 WITA, BBL 2850 gr, PBL 47 cm.
Kala 3    :  Plasenta lahir lengkap dengan selaput, BPL 500 gr.
Kala 4    :   Keadaan umum: baik, kontraksi uterus baik.
Perdarahan        : ±500 cc
Mulai SC         : 14.10 WITA tanggal 14/11/2013
Selesai            : 15.35 WITA
7.      Riwayat KB
        Pasien belum pernah menggunakan KB.
8.      Rencana KB
              Pasien berencana untuk menggunakan KB suntik.
9.      Riwayat Psikososial
Pasien merasa senang menerima bayi yang baru lahir walaupun harus melalui operasi section caesarea dan bertanya-tanya dan cemas tentang keadaan fisiknya.
Hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga/masyarakat adalah baik, pasien aktif mengikuti kegiatan masyarakat. Pasien tidak mengkhawatirkan pembayaran di rumah sakit karena pasien terdaftar sebagai peserta jamkesma.
C.      14 kebutuhan dasar manusia
1.       Pola napas.
Sebelum sakit   : Pasien tidak mengalami gangguan pernapasan
           Saat dikaji       : Pasien tidak mengalami gangguan pernapasan frekwensi 20x/ mnt.
2.    Pola makan/minum
Sebelum sakit   : Pasien makan 3x sehari dengan menu: nasi, sayur, ikan dan buah dan minum air putih 7-8 gelas/hari.
Saat dikaji      : Pasien makan makanan bubur, lauk pauk yang diberikan dari rumah sakit, porsi dihabiskan dan minum air putih.
3.      Eliminasi
Sebelum sakit   :  BAB : frekwensi 1-2 kali sehari
                                 BAK : frekwensi 5-6 kali sehari
Saat dikaji        :  BAB : frekwensi 1 kali selama post op
                                             BAK : frekwensi 4-5 kali sehari
4.      Pergerakan
Sebelum sakit   :  Pasien dapat melaksanakan aktivitas di rumah sendiri sebagai ibu rumah tangga misalnya menyapu, memasak, dan lain-lain
Saat dikaji        : Aktivitas pasien terbatas oleh karena nyeri pada luka operasi, nyeri terasa ditusuk-tusuk apabila pasien mengejan untuk BAB dan batuk, dan menghilang saat pasien berbaring. Aktivitas pasien di bantu oleh perawat dan keluarga seperti; mandi, berpakaian/berdandanmobilisasi di tempat tidur.
5.      Istirahat dan tidur
         Sebelum sakit  : Pasien tidur siang : 15.00-16.00 WITA, tidur malam: 21.00-06.00 WITA
Saat dikaji         :  Pasien tidak mengalami kesulitan untuk tidur.
6.      Memilih, menggunakan dan melepaskan pakaian
Sebelum sakit   :  Pasien dapat memilih, mengenakan dan melepaskan pakaian sendiri.
Saat dikaji        :  Pasien dibantu oleh keluarga dalam menggunakan dan melepaskan pakaian.
7.      Kebersihan dan kesegaran tubuh
      Sebelum sakit   : Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun mandi, keramas 2-3 kali seminggu dengan menggunakan shampo, sikat gigi 2 kali sehari memakai pasta gigi.
      Saat dikaji        : Pasien mengtakan belum mandi setelah di Operasi, setelah hari ke 4 Pasien dibersihkan di tempat tidur dengan cara diwaslap, menggunakan haduk kecil.
8.      Mencegah dan menghindar bahaya
      Sebelum sakit   : Pasien bisa mencegah dan menghindari bahaya sendiri.
   Saat dikaji       : Untuk mengurangi rasa nyeri, pasien membatasi gerak dan aktivitasnya.
9.      Beribadah sesuai kepercayaan
 Sebelum sakit   : pasien rajin mengikuti majelis tahlim.
 Saat dikaji        : Pasien hanya dapat berdoa di tempat tidur
10.  Mengerjakan dan melaksanakan sesuatu untuk memenuhi perasaan
Sebelum sakit   : Pasien dapat mengerjakan pekerjaan di rumah.
Saat dikaji        :  Pasien hanya terbaring di tempat tidur, tidak dapat bergerak dengan bebas atau melakukan aktivitas yang berlebih.
11.  Komunikasi
Dalam berkomunikasi baik dengan dokter, perawat dan keluarga, kooperatif serta mau mengungkapkan perasaanya.
12.  Suhu tubuh
      Sebelum sakit   : Pasien jarang mengalami peningkatan suhu tubuh.
      Saat dikaji        : Suhu tubuh pasien 36.3 C.
13.  Berpartisipasi dalam hal rekreasi
Sebelum sakit   : Penggunaan waktu senggang dilakukan dengan cara menonton TV bersama keluarga.
Saat dikaji        : Pasien tidak dapar berekreasi
14.  Belajar memuaskan keingintahuan yang mengarah pada perkembangan kesehatan.
      Saat dikaji        :   Pasien bertanya-tanya bagaiman cara meneteki bayi dan mengenai kebersihan dirinya.
D.      Pemeriksaan fisik
1.      Keadaan umum   Baik
2.      Kesadaran            Compos mentis
3.      Tanda-tanda vital   : TD 110/80 mmHg, N: 80x/mnt, R: 2x/mnt,   SB: 36,3° C
4.      TB/BB                    : 151 cm/ 52 kg
Head to toe
a.       Kepala     :    bentuk bulat, rambut hitam, penyebaran merata, tidak rontok, kulit kepala tampak bersih, ekspresi wajah tampak menahan sakit.
b.      Mata        :    bentuk simetris kiri dan kanan, konyuntiva tidak anemis, sklesa tidak ikterus.
c.       Hidung    :    simetris kiri dan kanan tidak ada sekat, nasal soptum terletak di tengah.
d.       Telinga     :    simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen, pendengaran baik.
e.       Mulut/gigi   : bibir kering, gusi warna merah muda, gigi idak ada caries, tidak ada perdarahan.
f.        Leher           : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening.
g.       Payudara     : hyperpigmentasi areola mamae, puting susu menonjol ada pengeluaran ASI.
h.      Abdoman
Inspeksi      :  luka post sectio caesarea panjang +/- 10 cm bentuk luka insisi linea medial inferior di jahit dengan cat gut. Tanda-tanda REEDA
-          Red    : tidak ada kemerahan
-          Edema : tidak ada pembengkakan
-          Ekimosis : tidak ada kebiruan
-          Drainase : tidak ada pengeluaran cairan/pus
-          Approximaxion : luka jahitan rapat
Palpasi        :  Terdapat nyeri tekan pada daerah perut (region umbilicalis), dengan skala nyeri : 5 sedang
Auskultasi    : peristaltik usus normal
Perkusi         : –
i.        Ekramitas
Atas          : dapat digerakkan tidak ada masalah
Bawah    : kaki simetris kiri dan kanan, tidak ada odema, tidak ada varices
E.      Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan laboratorium tanggal 13/11/2013
Jenis
Hasil
Nilai ujian
HB
11.7 gr %
12-16 gr %
Leukosit
8400/mm3
4000-10000/mm3
Trombosit
156 10/L
150-450 10/L

b.       Pemeriksaan USG tanggal 13/11/2013
Kesan janin intra uterin tunggal hidup letak kepala aterm
F.       Theraphy tanggal 13/11/2013
       Cefadoxil 3x1
       Metronidasol tab 3x1
       Diet TKTP
       Rawat luka
G.      Pegelompokan data
a.       Data subjektif
-         Ibu mengatakan nyeri pada luka operasi
-         Klien mengatakan nyeri hilang timbul
-         Ibu mengatakan tidak bisa bebas bergerak
-         Ibu bertanya tentang bagaimana langkah pemberiaaan ASI dengan baik.
-         Ibu megatakan masih kaku/canggung dalam meneteki bayi
-         Ibu mengatakan kegiatan/aktifitas masih dibantu keluarga
-         Ibu mengatakan belum pernah mandi setelah di operasi sesar.
b.      Data objektif
-         Ekspresi wajah tampak menahan sakit
-         Terdapat luka operasi sectio caesarea di abdomen +/- 10 cm ditutupi gaas
-         Terdapat nyeri pada daerah abdomen (region umbilicalis) dengan skala nyeri : 5 sedang
-         Klien belum bisa terlalu banyak bergerak dan aktivitas masih dibantu perawat dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari.  
-         TTV TD 110/80 mmHg, N: 80/mnt, R:2x/mnt, SB: 36,3 C.



H.    Analisa data
No.
Data
Etiologi

Masalah
1.
DS  :
-          Ibu mengeluh nyeri pada luka
-          Ekspresi wajah tampak menahan sakit
-          Terdapat luka post operasi hari ke-3 diabdomen, panjang luka + 10 cm ditutup gaas
-   Terdapat nyeri pada daerah abdomen (region umbilicalis) dengan skala nyeri: 5 sedang yang terurai sebagai berikut Tangisan; Tidak menangis: 0, Gerakan; Tidak melakukan gerakan yang negatif: 0, Rangsangan emosi; Ringan: 1, Postur tubuh; Meletakkan tangan di daerah luka: 2, Mengeluh nyeri; Dapat melokalisasi daerah nyeri: 2
-         TTV: TD 110/80 mmhg, N: 80x/mnt, R: 24 x/mnt, SB 36.0C
Luka operasi
ß
Terputusnya kontinuitas jaringan
ß
Menstimuli saraf-saraf perifer, menghantar impuls ke otak bagian hipotalamus
ß
Nyeri dipersepsikan
Nyeri
2.
DS  : 
-          Ibu mengeluh / mengatakan tidak bisa bergerak dengan bebas
-          Terdapat luka operasi sepanjang + 10 cm ditutupi dengan gaas
-          Aktivitas dibantu perawat dan keluarga dengan skor sebagai berikut; mandi: 2, berpakaian/berdandan: 2, mobilisasi di tempat tidur: 1, ambulasi: 2, dengan keterang untuk skor tersebut sebagau berikut: 0= mandiri, 1= dibantu sebagian, 2= perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4= tergantung atau tidak mampu.
Tindakan pembedahan
ß
Adanya luka operasi
ß
Kelemahan fisik
ß
Keterbatsan aktifitas
Keterbatasan aktivitas
3.
DS:          
-          Ibu mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
-          Badan ibu membungkuk, bayi diletakkan di atas bantal
Peran baru sebagai ibu
ß
Kurangnya informasi tentang teknik/ langkah-langkah pemberian ASI yang benar
ß
Kurangnya pengetahuan
Kurang pengetahuan





I.       Diagnosa Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan 
Tanggal Ditemukan
Tanggal teratasi
1
Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
16 – 11 -2012

2
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan adanya luka operasi
16 – 11 -2012
17 – 11 -2012
3
Kurang perawatan diri berhubungan dengan ketahanan   dan kekuatan otot dan ketahanan.
16 – 11 -2012
17 – 11 -2012


























J.        Asuhan Keperawatan


No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasionalisasi
1.
Nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi  yang ditandai dengan :
DS : 
-          Pasien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi
-          Eksprei wajah tampak menahan sakit nyeri.
-          Nyeri tekan pada daerah luka operasi
-          Terdapat luka operasi, panjang + 10 cm tertutup gaas
-          TTV TD100/70 mmHg, N: 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB 36,5°C
Nyeri berkurang/ hilang setelah diberikan tindakan keperawatan selama 2 hari  dengan kriteria hasil :
-          Pasien tidak mengeluh nyeri
-          Luka tampak kering
-          Ekspresi wajah tampak tenang
-          Skala nyeri dalam batas normal (0)
-          TTV dalam batas normal
-          TD : 110/80 mmHg, N : 80 x/m, R : 20 x/m, SB : 36,4°C
1.      Ajarkan teknik pengalihan perhatian


2.      Pantau  Tanda-tanda Vital (TTV)



3.      Rawat luka post operasi hari III
1.      Dapat mengalihkan perhatian pasien terhadap nyeri sehingga nyeri dapat ditoleransi
2.      Dengan mengukur TTV dapat mengetahui keadaan umum pasien dan dapat menentukan tindakan yang tepat
3.      Perawatan luka yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan sehingga nyeri dapat berangsur-angsur hilang.
2.
Keterbatasan aktivitas berhubungan dengan prosedur pengobatan dan perawatan ditandai dengan:
DS : 
-          Ibu mengeluh tidak dapat bergerak dengan bebas.
-          Terdapat luka operasi epanjang + 10 cm ditutupi gaas
-          Aktivitas dibantu oleh perawat dan keluarga
Kebutuhan aktivitas terpenuhi setelah di berikan tindakan selama 3 hari dengan kriteria hasil:
-          Pasien dapat bergerak dengan bebas
-          ADL dapat dilakukan secara mandiri
1.         Bantu pasien dalam melakukan perawatan diri seperti mandi, dan berpakaian.


2.         Anjurkan kepada keluarga unutk membantu pasien dalam beraktivitas.     


1.   Dapat membantu dalam memenuhi sebagian kebutuhan dasar pasien dan meningkatkan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien
2.   Agar kebutuhan pasien terpenuhi serta dapat membantu dalam proses   penyembuhan
3.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang langkah-langkah/teknik pemberian ASI yang benar ditandai dengan :
DS : 
-          Ibu mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
-          Badan ibu membungkuk, bayi diletakkan di atas bantal  
Ibu dapat meneteki bayinya dengan cara yang benar dan dalam posisi yang benar dan tidak kaku dengan kriteria hasil.
-          Ibu mengatakan sudah tahu cara meneteki yang benar
-          Meneteki dengan posisi duduk dengan menggendong bayi yang benar
1.      Mengajarkan teknik menyusui yang benar (pendidikan kesehatan)
2.      Kaji pengetahuan ibu tentang cara perawatan pasca bedah seksio sesarea
3.      Beri bimbingan dan demonstrasikan perawatan payudara serta cara memberi ASI yang benar
4.      Jelaskan hal – hal yang perlu dilaporkan kepada dokter atau perawat setelah melahirkan

5.      Jelaskan program pengobatan yang didapat pasien selama ini, meliputi nama obat, dosis, waktu, cara pemberian, tujuan dan efek samping dan program lain yang berhubungan dengan pasien seperti jadwal perawatan luka, jadwal kontrol
1.      Agar dapat menentukan berhasilnya menyusui bayi.
2.      Untuk memudahkan dalam pemberian informasi selanjutnya


3.      Dengan belajar dan latihan, ibu akan mengetahui cara perawatan pasca bedah

4.      Untuk menangani masalah yang dihadapi ibu secara dini dan menghindari kepanikan terhadap perubahan kondisi pasien
5.      Agar pasien lebih kooperatif dalam memberikan tindakan keperawatan pada dirinya




j.        Implementasi keperawatan
Hari/tanggal
No. Dx
Jam
Implementasi
Evaluasi


09.00
09.10
09.30
1.      Mengajarkan teknik pengalihan perhatian yaitu menghirup napas panjang dari hidung tahan 1-2 detik kemudian hembus melalui mulut di lakukan 1-3 kali.
2.      Mengukur TTV TD 100/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB: 36,5°C.
3.      Merawat luka operasi dengan teknik steril dengan memakai betadin dan luka tampak kering, tidak ada kemerataan, tidak ada pembengkakan tampak jahitan rapat.
1 Agustus 2013
Jam 16.30
S  :  Pasien mengatakn nyeri masih biasa.
O
·   Ekspresi wajah tampak sedikit rileks
·   TTV dalam batas normal  TD 100/70 mmhg, N : 80 x/mnt, R: 20 x/mnt, SB: 36,5°C.
·   Luka post sectio sepanjang 10 cm terawat baik
·   Nyeri tekan di daerah luka operasi
A  :  Masalah teratasi sebagian
  :  Lanjutkan intervensi 1,3,4


11.00
11.20
1.      Membantu pasien mandi dan berpakaian
2.      Menganjurkan pada keluarga untuk membantu pasien dalam beraktivitas dengan hasil keluarga mau membantunya, dan pasien mau melakukan sendiri/secara mandiri.
S :  Pasien mengatakan belum bisa beraktivitas sendiri
O   :  Aktifitas dibantu oleh perawat dan keluarga
  :  Masalah teratasi sebagian
P   :  Lanjutkan intervensi


12.00
1.      Mengajarkan teknik/ langkah-langkah dan menyusui yang benar
2.      Kaji pengetahuan ibu tentang cara perawatan pasca bedah seksio sesarea
3.      Beri bimbingan dan demonstrasikan perawatan payudara serta cara memberi ASI yang benar
4.      Jelaskan hal – hal yang perlu dilaporkan kepada dokter atau perawat setelah melahirkan
5.      Jelaskan program pengobatan yang didapat pasien selama ini, meliputi nama obat, dosis, waktu, cara pemberian, tujuan dan efek samping dan program lain yang berhubungan dengan pasien seperti jadwal perawatan luka, jadwal kontrol

Jam 18.30
S :  Pasien mengatakan masih kaku dalam meneteki bayi
O: 
·   Teknik menyusui belum benar
·   Bayi belum tampak menghisap kuat
A   :  Masalah belum teratasi
P :  Lanjutkan intervensi 1






BAB III
KESIMPULAN dan SARAN


A.     KESIMPULAN
Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram
Jenis-jenis Seksio Sesarae
a.       Seksio sesarea klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm.
b.      Seksio sesarea ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
Penyebab dari Seksio Sesarae adalah yaitu penyebab dari ibu dan janin iru sendiri dimana penyebab dari ibu yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, Plasenta previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I – II sedangkan penyebab dari janin yaitu Fetal distress/gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau forseps ekstraksi.
B.     SARAN
Adapaun saran setelah memberikan asuhan keperawatan pada Nn “K” yaitu :
1.           Diharapakan kepada masyarakat lebih memperhatikan kesehatan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan dalam keluarga.
2.           Selalu periksa kesehatan atau kehamilan rutin setiap bulan
3.           Selalu meningkatkan mutu kesehatan dalam masyarakat melalalui pelaksanaan upaya meningkatkan kebersihan lingkungan untuk mencegah timbulnya peenyakit tertentu dalam keluarga dan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar