Jumat, 17 Januari 2014

Askep Diare

BAB  I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang.

Dinegara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).(http://kerudungmanis.blogspot.com)
Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.
Di indonesia program rehidrasi dan penanggulangan diare mulai ditingkatkan dan dilakukan secra nasional sejak tahun 1974.yang diselenggarakan dibagian ilmu kesehatan anak ,fakultas kedokteran universitas Indonesia dengan jumlah penduduk indonesia,sebesar 135 juta dan kejadian diare sebanyak 50 juta episode.,angka kematian karena diareberjumlah antara 600.000-900.000orang pertahun  ditahun 1984 dengan jumlah penduduk sekitar 160 juta orang dengan jumkah 60 juta episode diare.kematian dire telah dapat ditekankan menjadi 200.000 orang saja.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dan diantaranya peningkatan pengetahuan tentang diare,baik mengenai masalah atupun penangannya.( prof.DR.Dr.suharyono.)
Berdasarkan data yang ada pada BPRSUD Labuang Baji  Makassar, anak-anak yang menderita penyakit diare pada tahun 2009      (Januari – September) mencapai jumlah 302  kasus dari pasien yang dirawat dalam tahun yang sama berjumlah 1054 pasien.(Medical Record BPRSUD Labuang Baji Makassar)
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Klien An. “F” Dengan Gangguan Sistem Pencernaan “Diare” di ruang perawatan anak BPRSUD Labuang Baji Makassar





B.   TUJUAN PENULISAN

1.    Tujuan umum
Untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran yang jelas tentang upaya tenaga kesehatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem pencernaan “Diare” khususnya pada anak serta menambah pengetahuan penulis dalam penulisan asuhan keperawatan secara profesional.
2.    Tujuan khusus
a.    Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien diare dan merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien diare.
b.    Mampu membuat rencana keperawatan pada pasien diare.
c.    Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien diare.
d.    Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien diare.
e.    Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada pasien diare.
f.     Mampu mengidentifikasi adanya kesenjangan antara teori dan kasus yang didapatkan pada pasien diare





C.   MANFAAT PENULISAN

1.    Bagi Rumah Sakit
Dapat menjadi masukan bagi RSU Labuang Baji Makasar, kepala ruangan serta pegawai di ruangan ,khususnya ruangan perawatan anak Baji Minasa untuk mengambil langkah-langkah serta kebijakan untuk peningkatan pelayanan keperawatan kepada pasien khususnya diare dengan penderita anak-anak.
2.    Klien dan Keluarga
Agar keluarga klien mengetahui tentang tindakan pertama dan dapat melakukan perawatan tahap pertama terhadap penyakit diare serta cara penularan dan pencegahannya.
3.    Penulis
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menangani penyakit diare pada anak-anak dan merupakan satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Program D III keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar





D.   METODE PENULISAN

Adapun metode penulisan yang digunakan dalam membuat karya tulis ini adalah :
1.    Metode kepustakaan
Metode ini ialah penulis mencoba  mempelajari beberapa literatur atau materi-materi yang berhubungan dengan kasus ini.
2.    Metode pengumpulan data
Ialah digunakan melalui wawancara, pemeriksaan fisik dan observasi.
3.    Metode studi kasus
Menganalisa data dan masalah dalam praktek keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang mulai dari pengkajian, analisa data, intervensi dan evaluasi.
4.    Tempat dan waktu pengambilan kasus bertempat di kamar 4 kelas II ruangan keperawatan anak Baji Minasa RSU. Labuang Baji Makassar pada Tanggal  15 – 17 september 2009.

E.   SISTEMATIKA PENULISAN

Karya tulis ini secara sistematis terdiri dari lima bab dengan urutan sebagai berikut :
Bab       I   :   Pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Bab       II  :   Tinjauan pustaka, meliputi pengertian,anatomi dan fisiologi patofisiologi, manifestasi klinik dan penatalaksanaan.
Bab       III :   Tinjauan kasus meliputi pengkajian keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Bab       IV:   Pembahasan penulisan, menguraikan tentang kesenjangan antara teori dan praktek yang ditemukan dalam keperawatan dan cara pemecahan masalah kesehatan.
Bab       V :   Penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran yang dianggap perlu untuk diperhatikan.
Lampiran
Daftar Pustaka











BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Konsep Dasar Medis

1.    Pengertian
a.    Diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan kosistensi tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu kurang dari dua meinggu.(Por.DR.Dr.suharyono).
b.    Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi faeces encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja.(Ngastiyah, 1997, hal : 143) dalam Swani.kti.2009. askpe diare-(online) http://varyaskep.file.wordpress.com.
c.    Diare adalah defekasi yang tidak normal baik frekuensi maupun konsistensinya, diare lebih dari tiga kali sehari (Mansjoer Arief, dkk, 2000).
d.    Dari beberapa uraian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa diare adalah buang air besar (BAB) yang tidak normal lebih dari 3 – 4 kali sehari dengan konsistensi encer atau cair.


2.    Etiologi
Adapun penyebab diare menurut Ngastiyah, 1997 hal : 143 dalam Swani.kti.2009.,,askpe,,diare.http://varyaskep.file.wordpress.com.
terdiri dari beberapa faktor :.
a.    Faktor infeksi
Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi enternal sebagai berikut :
1.)   Infeksi bakteri :  
Vibro E Coli, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
a)    Infeksi virus
Entero virus (virus Echo, coxackie, poliomyelitis), Andero virus, Roya virus, Astrivirus, dan lain-lain.
b)    Infeksi parasit
Cacing (Ascaris, Triehivirus, Oxyaris, Strongiloides), Protozoa (Entamuba, Giardia lambia, trichormonas hominis), Jamur (Candida albicans).
2.)                                          Infeksi parenteral
Yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti otitits media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensepalitis dan sebagainya.
b.    Faktor malabsorbsi
1.)   Mal absorbsi karbohidrat
2.)   Mal absorbsi lemak
3.)   Mala bsorbsi protein
c.    Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
d.    Faktor psikologi
Rasa takut dan cemas (jarang terjadi, tetapi dapat menimbulkan diare utamanya anak yang lebih besar).

3.  Anatomi Fisiologi Saluran Pencernaan
Gbr.1 Anatomi tubuh manusia
sistem-pencernaan
Sumber :    hhtp//gurungeblog.files.wordpress.com/sistem pencernaan/2008
di update tanggal 20 september 2009
Saluran pencernaan terdiri atas :
e.    Mulut
Pada rongga mulut terdapat gigi, lidah dan kelenjar saliva. Mulut berfungsi untuk mengngunya makanan. Ingesti dimulai di dalam mulut dimana terjadi refleks mengisap dan pengontrolan gerakan mulut dan lidah yang memungkinkan untuk mengunyah makanan. Pencernaan di mulut dimulai oleh ptyalin yaitu enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar saliva untuk membasahi dalam metabolisme makanan.
                              Gbr.2.Rongga mulut
rongga-mulut
Sumber :    hhtp//gurungeblog.files.wordpress.com/sistem pencernaan/2008
di update tanggal 20 september 2009
f.     Esofagus
Esofagus adalah sebuah lubang tabung berotot yang panjangnya 20 s.d 25 cm, dimulai dari faring sampai dengan pintu masuk cardiac lambung.Makanan berjalan dalam esofagus karena peristaltik, lingkaran serabut otot di depan makanan mengendor dan di belakang makanan berkonsentrasi, maka gelombang peristaltik mengantarkan bola makanan ke lambung.
g.    Lambung
Terletak di bawah diafragma, di depan pankreas dan limpa menempel pada sebelah kiri fundus.
Lambung terdiri atas empat lapisan :
1.)   Lapisan peritoneal luas yang merupakan lapisan serosa.
2.)   Lapisan berotot, yang terdiri dari 3 lapisan :
a.)  Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esofagus.
b.)  Serabut sirkuler, yang paling tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot spinter (berada di bawah lapisan pertama).
c.)   Serabut oblik, terutama dijumpai pada fundus lambung dan berjalan dari orifisium kardiak kemudian membelok ke bawah melalui kurvatura minor.
3.)   Lapisan submukosa, terdiri dari atas jaringan alveolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe.
4.)   Lapisan mukosa, terletak di sebelah dalam, tebal dan terdiri atas banyak kerutan atau rugae, akan hilang apabila organ itu mengembang karena berisi makanan.
Lambung adalah organ yang dapat mengembang, dimana lambung ini berfungsi sebagai tempat menampung/menyimpan sebagian makanan yang sudah dicerna, mencairkan makanan, mengabsorbsi cairan (air dan alkohol serta mengeluarkan hormon tambahan dan enzim untuk pencernaan. Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu :
1.)  Fase sefal :
Terjadi karena melihat, mencium dan memikirkan atau merasakan makanan sehingga menimbulkan sekresi lambung.
2.)  Fase gasterik dan fase hormonal :
Terjadi bila makanan mencapai natrum dan kemudian dibawa oleh darah ke kelenjar gasteric menyebabkan sekresi.
3.)  Fase intestinal :
Terjadi bila makanan masuk duodenum dan menyebabkan lambung mengeksresi getah lambung dalam jumlah sedikit.




                        Gbr.3.Anatomi lambung
lambung
Sumber :    hhtp//gurungeblog.files.wordpress.com/sistem pencernaan/2008
di update tanggal 20 september 2009


h.    Usus halus
Usus halus adalah lambung yang panjangnya kurang lebih dari 2,5 meter terletak di daerah umbilikus dan dikelilingi oleh usus besar, usus halus terdiri dari beberapa bagian yaitu : duodenum, yeyenum, dan ilenum. Usus halus mempunyai dua fungsi yaitu pencernaan dan absorbsi. Proses pencernaan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak dan protein serta zat-zat yang lebih sederhana, adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan memberi pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dari hati membantu proses pencernaan lemak. Disempurnakan oleh sejumlah enzim merupakan dalam getah usus, banyak diantara enzim-enzim ini terdapat pada Brush Border Vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil diabsorbsi.
Absorbsi adalah pemindahan hasi-hasil akhir dari pencernaan karbohidrat, lemak dan protein (gula sederhana, asam-asam lemak dan asam amino), melalui dinding usus ke sirkulasi darah dan limfe. Vitamin juga diabsorbsi. Absorbsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transport aktif dan pasif yang sebagian besar kurang dimengerti besi dan kalsium sebagian besar diabsorbsi dalam duodenum dan untuk diabsorbsinya memerlukan vitamin D.
Vitamin yang larut dalam lemah (A, D, E, dan K) diabsorbsi dalam duodenum dan memerlukan garam-garam empedu. Asam folat dan vitamin-vitamin lain yang larut dalam air juga diabsorbsi dalam duodenum. Absorbsi gula dan asam-asam amino dan lemak sebagian besar diselesaikan menjelang khimus mencapai jejenum. Absorbsi vitamin B-12 berlangsung pada ileum terminal melalui mekanisme transport khusus yang memerlukan faktor intrinsik lambung.

Gbr.4.anatomi usus halus
usus-halus

Sumber :    hhtp//gurungeblog.files.wordpress.com/sistem pencernaan/2008
di update tanggal 20 september 2009
i.      Usus besar
Panjangnya kurang lebih 1,5, meter merupakan sambungan dari usus halus dimulai dari katub ileokolik dan atau ileosekal (tempat sisa makanan lewat) kolon sebagian kantong yang mekar dan terdapat appendix vermiformis atau umbai cacing. Appendix juga terdiri dari empat lapisan dinding yang sama seperti usus lainnya, hanya lapisan submukosanya yang berisi sejumlah besar jaringan limfe.
Usus besar mempunyai fungsi yang paling penting adalah mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung.                        Gbr.5.Anatomi usus besar
usus-besar
Sumber :    hhtp//gurungeblog.files.wordpress.com/sistem pencernaan/2008
di update tanggal 20 september 2009
4.    Insiden
a.    Gastroenteritis akut adalah penyakit utama kedua yang paling seringmenyerang anak-anak (flu adalah yang pertama).
b.    Rotavirus adalah penyebab kira – kira 35 % sampai 50 % hospitalisasi karena gastroenteritis akut; antara 7 % dan 17 % disebabkan adenovirus; dan 15 % disebaban bakteri.
c.    Bayi yang mendapat ASI lebih jarang menderita gastroenteritis akut dari pada bayi yang mendapat susu formula; antibodi maternal terhadap sejumlah patogen enterik dipindahkan melalui air susu ibu (Betz, Cecily L, 2002).dalam
5.    Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
a.    Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi).
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan air (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
b.    Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) :
1.    Kehilangan Na – bikarbonat bersama tinja.
2.    Ketotis kelaparan, metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.
3.    Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
4.    Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal sehingga terjadi oliguria / anuria
5.    Pemindahan ion natrium dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan yang bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernafasan kuszmaull. Pernafasan kuszmaull ini merupakan komeostatis respiratorik, adalah usaha dari tubuh untuk mempertahankan pH darah.


c.    Hipoglikemia
Pada anak-anak dengan gizi cukup / baik, hipoglikemia ini jarang terjadi. Lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita KKP.
Hal ini terjadi karena :
1.              Penyimpanan / persediaan glikogen dalam hati terganggu.
2.     Adanya gangguan absorbsi glukosa.
                  Gejala-gejala hipoglikemia dapat berupa : lemas, apatis, tremor, berkeringat, pucat kejang sampai koma.
d.    Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat, hal ini disebabkan karena :
1.    Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntahnya akan bertambah berat, sehingga orang tua hanya memberikan minum air teh saja.
2.    Pemberian susu yang direncanakan terlalu lama.
3.    Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
e.    Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan  / tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (shock) hipovolemik. Akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong panderita dapat meninggal.
6.    Gambaran klinik
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin disertai darah dan lendir. Warna tinja lama kelamaan menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila penderita telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan sedang dan berat (Ngastiyah, 1997).
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan :
a.    Kehilangan berat badan
1.    Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan berat badan 2,5 – 5 %.
2.    Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan berat badan >5 –10 %.
3.    Dehidrasi berat, bil terjadi penurunan berat badan >10 %.
b.    Skor Maurice King
Tabel skor dehidrasi
Bagian tubuh yang diperiksa
Nilai untuk gejala yang ditemukan
0
1
2
Keadaan umum
Kekenyalan kulit
Mata
Ubun-ubun besar
Mulut
Denyut nadi
Sehat
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Normal
< 120 x/menit
Gelisah, Apatis, rewel, ngantuk.
Sedikit ( - )
Sedikit cekung
Sedikit cekung

Kering
120 – 140 x/m
Mengigau, koma, atau syok
Sangat kurang
Cekung
Cekung

Kering
< 140 x/m
Sumber : Gastroenterologi Anak Praktis
1.    Dehidrasi ringan 0 – 2
2.    Dehidrasi sedang 3 – 6
3.    Dehidrasi berat 7 – 12

c.    Gejala klinis
Tabel gejala klinis dehidrasi
Gejala klinis
Ringan
Sedang
Berat
1.    Keadaan umum
a)      Kesadaran
b)      Rasa haus
2.    Sirkulasi
a)      Nadi
3.    Respirasi
a)      Pernafasan


4.    Kulit
a)    Ubun-ubun besar
b)    Mata
c)    Turgor dan Tonus
d)    Diuresis
e)    Selaput lendir
Baik (Composmentis)
+
Normal

Biasa




Agak cekung
Agak cekung
Biasa
Normal
Normal
Gelisah

++

Cepat

Agak cepat



Cekung
Agak kurang
Oliguri
Agak kering 
Apatis – Coma

+++

Cepat sekali

Kusmaul
 (cepat dan dalam)

Cekung sekali
Cekung sekali
Kurang sekali
Anuria
Kering 
Sumber : Gastroenterologi Anak Praktis

Untuk menentukan kekenyalan kulit, kulit kulit dijepit antara ibu jari dan telunjuk selama 30 – 60 detik, kemudian dilepas. Jika kulit kembali normal dalam waktu :
a)    1 detik            :           turgor agak kurang (dehidrasi ringan).
b)    1 – 2 detik      :           turgor kurang (dehidrasi sedang).
c)    2 detik            :           turgor sangat kurang (dehidrasi berat)
Pada anak-anak dengan ubun-ubun besar sudah menutup, nilai untuk ubun-ubun besar diganti dengan banyaknya / frekuensi kencing.
7.    Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut :
a.    Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, hipertonik).
b.    Renjatan hipovolemik.
c.    Hipokalemia (hipotoni otot, lemah, bradikardi, perubahan EKG).
d.    Hipoglikemia.
e.    Intolerance sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defesiensi enzim laktase.
f.     Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.
g.    Malnutrisi energi protein akibat muntah dan diare jika lama atau kronik.


8.    Pencegahan
Mengingat bahwa penularan penyakit ini melalui 4 F “Finger, Feces, Food and Fly”, maka penyuluhan yang penting adalah :
a.    Kebersihan perorangan pada anak, mencuci tangan sebelum makan dan setiap habis bermain memakai alas kaki jika bermain di tanah.
b.    Membiasakan anak membuang air besar di jamban jamban harus selalu bersih agar tidak ada lalat.
c.    Kebersihan lingkungan untuk menghindari adanya lalat.
d.    Makanan harus selalu tertutup (jika di atas meja).
e.    Kepada anak yang sudah dapat membeli makanan sendiri agar diajarkan untuk tidak membeli makanan yang dijajakan terbuka.
f.     Air minum harus selalu dimasak. Bila sedang berjangkit penyakit diare selain air yang harus yang bersih juga perlu dimasak mendidih lebih lama. (Ngastiyah, 1997)
9.    Penanganan
Dasar pengobatan diare :
a.    Pemberian cairan : jenis cairan, cairan peroral, cairan parenteral.
b.    Dietetik (cara pemberian makanan).
c.    Pemberian obat-obatan.
1)    Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum klien.
a)    Cairan peroral : diare dengan dehidrasi ringan, sedang.
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan peroral berupa cairan  yang berisikan NaCL dan NaHCO3, KCL dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak di atas umur   6 bulan kadar natrium 90 mEq/L. pada anak di bawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan / sedang kadar natrium 50 – 60 mEq/L. formula lengkap sering disebut oralit. Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap) hanya mengandung garam dan gula (NaCL dan sukrosa), atau air tajin yang diberi garam dan gula, untuk pengobatan sementara dirumah sebelum dibawa berobat ke rumah sakit/pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
b)    Cairan parental
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasien misalnya untuk bayi dan pasien yang MEP.
Tetapi semuanya itu tergantung tersedianya cairan setempat. Pada umumnya cairan Ringer Laktat selalu tersedia di fasilitas kesehatan dimana saja. Mengenai pemberian cairan seberapa banyak yang diberikan bergantung dari berat ringannya dehidrasi yang diperhatikan dengan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan beratnya.
Cara memberikan cairan :
(1)     Belum ada dehidrasi.
Peroral sampai anak masih mau minum atau 1 gelas setiap defekasi.
(2)     Dehidrasi ringan
(a)   1 jam pertama  :   25 – 50 ml/kg BB peroral
(b)   Selanjutnya     :   125 ml/kg BB/hari ad. Libitum   
(3)     Dehidrasi sedang
(a)   1 jam pertama  :   50 – 100 ml/kg peroral/intra gastric (sonde)
(b)   Selanjutnya     :   125 ml/kg BB/hari ad. Libitum
(4)     Dehidrasi berat
(a)  Untuk anak berumur 1 bulan sampai 2 tahun, BB : 3-10kg 1 jam pertama : 40 ml/kg BB/jam = 10 tetes/kg BB/menit. (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes/kg BB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes).
7 jam berikutnya : ml/kg BB/jam = 3 tetes/kg BB/menit (set infus 1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/kg/menit (set infus 1 ml = 20 tetes). 16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik.
(b)  Untuk anak umur 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg.
1 jam pertama : 30 ml/kg BB/jam atau 18 tetes/kg BB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 10 tetes/kg BB/menit     (1 ml = 20 tetes). 7 jam berikut : 10 ml/kg BB/jam atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
16 jam berikutnya 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik
(c)  Untuk anak 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg.
1 jam pertama : 20 ml/kg BB/jam atau 5 tetes/kg BB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 7 tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes) 7 jam berikut : 10ml/kg BB/jam atau 2 ½ tetes /kg BB/menit (1 ml = 15 tetes/menit) atau 3 tets/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
16 jam berikutnya 105 ml/kg BB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat di berikan DG aa intraveba 1 tetes/kg BB/menit (1 ml = 15 tetes)atau 1 ½ tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
(d)  Untuk bayi yang baru lahir neonatus dengan BB : 2-3 kg. Kebutuhan  cairan : 125 ml + 100 ml + 25ml = 250 ml/kg BB/24 jam.
Jenis cairan, cairan 4 : 1 (4 bagian gukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1 ½ %)
Kecepatan :
4 jam pertama : 25 ml/kg BB/jam atau 6 tetes /kg BB/menit (1 ml= 15 tetes) atau 8 tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
20 jam berikutnya 150 ml/kg BB/20 jam atu 2 tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
(e)  Untuk BBLR dengan berat badan kurang 2 kg kebutuhan cairan : 250 ml/kg BB/24 jam. Jenis cairan : 4 : 1
(f)   Kecepatan cairan : sama dengan bayi baru lahir.
(g)  Cairan untuk MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat.
Misalnya anka umur 1bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg.
Jenis cairan DG aa jumlah cairan 250 ml/kg BB/24 jam.
Kecepatan :
4 jam peratama : 60 ml/kg BB/jam atau 15 ml/kg BB/jam atau 4 tetes/kg BB/menit (1 ml = tetes) atau 5 tetes/kg BB/menit (1 ml = 20 tetes).
2.    Penanganan dietetik
Untuk anak dibawah satu tahun dan anak diatas satu tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg jenis makanannya :
a.    Susu (ASI atau susu formula yang renah laktosa, dan rendah asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almirom).
b.    Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu.
c.    Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu rendah laktosa atau asam lemak yang, berantai sedang atau tidak jenuh.
3.    Pemberian obat-obatan
Perinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras).

a.    Obat anti sekresi
(1)  Asetosal, dosis 25 mg/tahun dengan dosis minuman 30 mg.
(2)  Klorpromasin, dosis 0,5 mg/kg BB/hari
b.    Obat antibiotik, diberikan bila perlu saja dan sudah ada penyakit yang jelas.

B Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, dan memulihkan kesehatan.
Proses keperawatan adalah susunan metode pemecahan masalah yang meliputi pengkajian keperawatan, identifikasi/analisa masalah (diagnosa keperawatan), perncanaan, implementasi, dan evaluasi (Doenges, Marylynn E, 1998) yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan profesional tenaga keperawatan.
1.    Pengkajian
 Pengkajian merupakan tahap awal dan merupakan dasar proses keperawatan, diaman diperlukan pengkajian yang cermat untuk masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tingkatan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap pengkajian.


 Data yang lazim ditemukan pada pengkajian klien dengan diare (Tucker, Susan Martin, 1998) meliputi :
a.    Sering defekasi :
1)    Warna kuning kehijauan.
2)    Mungkin mukoid.
3)    Mungkin mengandung darah.
b.    Penurunan berata badan atau kegagalan untuk meningkatkan berat badan.
c.    Penurunan nafsu makan.
d.    Nyeri dan/atau kram abdomen.
e.    Distensi abdomen.
f.     Hyperaktif bising usus.
g.    Muntah.
h.    Demam.
i.      Peka rangsang.
j.      Letargi meningkat.
k.    Dehidrasi :
1)    Depresi fontanel anterior.
2)    Mata cekung
3)    Turgor kulit buruk.
4)    Selaput lendir kering.
5)    Tak ada air mata saat menangis.
6)    Berat jenis urine tinggi.
7)    Oliguari.
l.      Ketidak seimbangan elektrolit.
m.   Hiponatremia atau hipernatremia
n.    Hipokalemia atau hiperkalemia.
o.    Asidosis metabolik.
p.    Pemeriksaan penunjang.
Untuk kasus diare biasanya dilakukan pemeriksaan :
1)    Usapan dubur untuk biakkan kuman, biasanya ditemukan E, coli, Shygella, selain sebagai biakan kuman juga berfungsi untuk mendeteksi apakah klien intoleran terhadapa makanan lemak atau karbohidrat.
2)    Pemeriksaan darah rutin : Hb, leukosit, eritrosit, tormbosit, biasanya terjadi leukositosis bila diare disebabkan kuman.
3)    Analisa gas darah, untuk mengetahui tingkat asidosis akibat dehidrasi.
4)    Kimia darah, untuk mengetahui tingkat elektrolit dalam darah biasanya kalium dan nutrium di bawah normal.
5)    Pemeriksaan urinalisa : kepekaan dan berat jenis urine.



2.    Rumusan diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis terhadap respon aktual dan potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada klien diare baik aktual maupun potensial adalah seperti berikut :
a.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah atau diare.
b.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah atau diare.
c.    Diare berhubungan dengan iritasi usus, proses infeksi atau malabsorbsi usus.
d.    Perubahan integritas kulit berhubungan dengan seringnya defekasi dengan iritasi pada daerah anal dan bokong.
e.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai perawatan di rumah.
3.    Perencanaan tindakan keperawatan / intervensi
Adapun rencana tindakan keperawatan pada klien dengan diare, adalah sebagai berikut :
a.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah atau diare.
Tujuan     :   Status volume cairan kembali normal, dengan kriteria membran mukosa lembab, turgor kulit normal, penambahan berat badan, haluaran urine sesuai usia.
Intervensi    :      
1.    Monitor intake dan output
Rasional    :   Catatan mengenai intake dan output dapat mendeteksi dini adanya ketidak seimbangan cairan.
2.    Timbang BB setiap hari.
Rasional    :   Penimbangan berat badan harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.
3.    Pantau tanda dan gejala dehidrasi seperti ; turgor kulit, warna kulit, keadaan ubun-ubun, membran mukosa, haus.
Rasional    :   Adanya turgor kulit yang jelek, ubun-ubun yang cekung, membran mukosa kering mengindikasikan adanya dehidrasi.
4.    Beri cairan parenteral dengan pemberian cairan elektrolit sesuai pesanan.
Rasional    :   Pemberian cairan parenteral sangat dibutuhkan jika klien telah mengalami dehidrasi atau resiko terjadinya dehidrasi.
5.    Berikan cairan peroral kepada klien.
Rasional    :   Pemberian cairan peroral dapat mengembalikan cairan dan elektrolit yang hilang melalui muntah dan defekasi.
b.    Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah atau diare.
Tujuan     :   Nutrisi dapat terpenuhi melalaui intake yang adekuat dengan kriteria adanya penambahan berat badan.


Intervensi    :
1.    Timbang berat badan tiap hari.
Rasional    :   Dengan menimbang berat badan setiap hari dapat diketahui status nutrisi klien.
2.    Pantau intake dan output.
Rasional    :   Untuk mengetahui apakah sudah terjadi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.
3.    Beri makan sedikit-sedikit dan makanan tambahan yang tepat.
Rasional    :   Dilatasi gaster akan terjadi bila pemberian makanan terlalu cepat setelah periode puasa.

4.    Beri HE tentang manfaat gizi seimbang.
Rasional    :   Gizi seimbang dapat mempercepat proses penyembuhan dan sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.
5.    Kolaborasi pemberian diet yang tepat sesuai dengan program pengobatan dan indikasi.
Rasional    :   Pemberian diet yang tepat dapat memenuhi kebutuhan klien akan nutrisi dan mencegah terjadinya malnutrisi.
c.    Diare berhubungan dengan iritasi usus, proses infeksi atau malabsorbsi usus.
Tujuan     :   Pola defekasi klien dapat kembali normal seperti sebelum dirawat di rumah sakit.
Intervensi    :
1.    Pertahankan status puasa sampai frekuensi dan volume defekasi menurun.
Rasional    :   Untuk mencegah terjadinya iritasi gastrik lebih lanjut.
2.    Kaji frekuensi, karakteristik dan warna faeces.
Rasional    :   Agar dapat diketahui secara dini adanya perubahan yang terjadi pada pola defekasi.
3.    Berikan cairan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional    :   Dapat menggantikan cairan yang hilang pada diare dan muntah.
4.    Tingkatkan diet dari cair menjadi lebih padat.
Rasional    :   Agar kebutuhan diet klien dapat terpenuhi dan untuk memantau volume defekasi.
d.    Perubahan integritas kulit berhubungan dengan seringnya defekasi dengan iritasi pada daerah anal dan bokong.
Tujuan     :   Klien dapat menunjukkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteria warna kulit daerah anal dan bokong sama dengan warna sekitarnya dan tidak terjadi lecet dan kemerahan.
Intervensi    :
1.    Jaga daerah pemasangan popok agar tetap bersih dan kering.
Rasional    :   Agar daerah perineal tidak lembab yang memudahkan tejadinya lecet.
2.    Bersihkan daerah perenial setiap kali selesai defekasi , bilas dengan air dan bersihkan dengan tissue.
Rasional    :   Daerah perenial yang bersih mencegah terjadinya lecet dan iritasi pada daerah perenial.
3.    Ganti popok / alat tenun setiap kali basah.
Rasional    :   Menghindari pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme.
4.    Berikan salep pelindung setiap mengganti popok atau pakaian.
Rasional    :   Salep pelindung kulit mengurangi kontak kulit perenial dengan asam dan cairan faeces.
5.    Cuci tangan sebelum dan setelah mengganti popok atau pakaian.
Rasional    :   Untuk mencegah terjadinya infeksi silang dari keluarga kepada klien.
e.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai perawatan di rumah.
Tujuan     :   Orang tua atau keluarga dapat memahami tentang perawatan di rumah serta diet yang harus dijalankan.
Intervensi    :
1.    Ajarkan tehnik cuci tangan yang baik sebelum dan setelah mengganti popok atau pakaian.
Rasional    :   Agar orang tua atau keluarga dapat mengetahui tehnik mencuci tangan yang baik sehingga dapat diterapkan di rumah.
2.    Jelaskan kepada orang tua untuk selalu memonitor adanya muntah atau diare pada anak dan denyut nadi yang tidak teratur serta langsung melaporkan kepada dokter.
Rasional    :   Adanya tanda-tanda muntah dan diare merupakan gejala ketidak seimbangan cairan.
3.    Ajarkan kepada orang tua bagaiman penanganan diare di rumah.
Rasional    :   Dengan mengetahui cara penanganan diare di rumah memudahkan orang tua memberi tindakan sebelum membawa klien ke rumah sakit.
4.    Diskusikan pentingnya masukan cairan yang adekuat serta kebutuhan diet.
Rasional    :   Mempercepat penyembuhan dan normalisasi fungsi usus.

4.    Pelaksanaan / Implementasi.
Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujdan dari rencana keperawatan. Untuk memperoleh pelaksanaan yang efektif, dituntut pengetahuan dan keterampilan yang luas dari tenag perawat untuk memberikan pelayanan perawatan yang baik dan bermutu yang telah ditentukan dan direncanakan.
a.    Melaksanakan rencana keperawatan.
Segala informasi yang tercakup dalam rencana keperawatan merupakan dasar atau pedoman dalam intervensi perawatan.


b.    Mengidentifikasikan reaksi / tanggapan klien
Dalam mengidentifikasi reaksi / tanggapan klien dituntut upaya yang tidak tergesa-gesa, cermat dan teliti, agar menemukan reaksi klien sebagai akibat tindakan keperawatn yang diberikan. Dengan melihat akan sangat membantu perawat dalam mengidentifikasikan rekasi klien yang mungkin menunjukkan adanya penyimpangan-penyimpangan.
c.    Mengevakuasi tanggapan / reaksi klien.
Dengan cara membandingkan terhadap syarat-syarat dengan hasil yang diharapkan. Langkah ini merupakan langkah yang pertama yang dipenuhi bila perawat telah mencapai tujuan. Syarat yang kedua adalah intevensi dapat diterima oleh klien.
5.    Evaluasi
Merupakan proses yang kontinue untuk menjamin kualitas dan ketepatan perawat yang diberikan, dilakukan dengan meninjau respon pasien untuk menentukan kefektifan rencana keperawatn dalam memenuhi kebutuhan pasien. Yang perlu dievaluasi adalah sebagai berikut :
a.    Apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah tercapai atau belum.
b.    Apakah masalah yang ada sudah terpecahkan atau belum.

c.    Apakah perlu pengkajian kembali

BAB III
TINJAUAN KASUS
A.      Pengkajian
1.      Biodata
a.    Identitas Klien
1)    Nama                                               : An. F
2)  Umur                                               : 7 bulan
2)    Jenis kelamin                                 : Laki-laki.
3)    Agama                                             : Islam
4)    Pendidikan                                     : Belum sekolah
5)    Alamat                                              : Pasar bulu-bulu Maros
6)    Tanggal masuk Rumah sakit       : 12 November 2013
7)    Tanggal pengkajian                      :13 Novembeer 2013
8)    Diagnosa medis                             : Diare
b.    identitas,tua 
1)  Ayah
a)    Nama                                         : Tn. M
b)    Usia                                            : 26 tahun
c)    Pendidikan                               : SMA
d)    Pekerjaan                                  : Wiraswasta
e)    Agama                                       : Islam
f)     Alamat                                        : Pasar bulu-bulu Maros
2)  Ibu
a)      Nama                                         : Ny.  H
b)      Usia                                            : 26tahun
c)      Pendidikan                               : SMU
d)     Pekerjaan                                  : IRT
e)      Agama                                       : Islam
f)       Alamat                                        : Pasar bulu-bulu Maros

c.    Identitas saudara kandung
No
Nama
Usia
Hubungan
Status kesehatan
1
An “A”
4 tahun
Kakak kndung
Sehat
2
An “F”
7 hun
Klien
Diere

   II. Keluhan Utama / Alasan Masuk Rumah Sakit
Berak –berak
 III Riwayat Kesehatan
a.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu klien mengatakan anaknya berak-berak encer sejak 3 hari yang lalu dengan frekuensi kurang lebih 6 kali /hari dan bersi air dan ampas, tidak disertai lendir dan darah. Karena panik melihat keadaan klien tampak lemah, maka orang tua klien memutuskan untuk membawa anaknya ke Rumah Sakit, Saat dirumah sakit langsung di berikan perawatan yaitu pemberian cairan RL 20 tetes/menit
Pengobatan lebih lanjut.
   Keadaan saat dikaji; klien tampak lemah, ibu klien mengatakan anaknya BAB 6 x sehari,Ibu klien mengatakan kotoran anaknya (tinja) encer dan berampas, waktu BAB tidak teratur
b. Riwayat kesehatan lalu
sebelumnya klien tidak pernah dirawat dirumah dan tidak pernah mengalami penyakit diare. Klien tidak mempunyai riwayat yang lengkap, klien tidak mempunyai penyakit kurang gizi. Pada saat lahir klien langsung mendapat asi dari ibunya sampai umur 7 bulan  atau sampai sekarang. klien lahir dalam keadaan normal atau cukup bulan dengan persalinan normal tanpa operasi
1. Pre natal
     - Pemeriksaan kehamilan 5 x
     - Keluhan selama hamil;  muntah-muntah,sakit ulu hati
     -Tidak pernah terpapar sinar  x  selama hamil, pengobatan selama hamil ;penambah darah dari puskesmas
     -Kenaikan berat badatosin selama hamil 3 g.
     -Imunisasi TT tidak pernah selama kehamilan
-Golongan darah ibu; AB Golongan darah Ayah; A
2. Natal
     a. Tempat melahirkan Rumah Sakit
b. penolong persalinan Dokter
3. Posnatal
- Kondisi bayi 3,2 gram,panjang badan   lahir 50 cm. :
- Bayi tidak mempunyai penyakit kekuningan dan kebiruan,
- Warna bayi kemerahan,
- Klien langsung disusui oleh ibunya     
- Penyakit yang pernah dialami  klien adalah Batuk,demam diare.
-     Klien pernah jatuh
- Klien tidak pernah menjalani operasi
- klien tidak mempunyai riwayat alergi terhadap makanan   dan obat- obatan
- Perkembangan anak dibanding saudara yang lain adalh sama
                               
c.    Riwayat kesehatan keluarga
I
 
                                                                                  

II
 
                                                                                    

`
                                
Oval: 4
7 bln
 



  III

Keterangan   :
I                 : - Kakek klien dari pihak ayah masih hidup.
                       - Nenek klien dari pihak ayah masih hidup.
      II              : - Kakek klien pihak ibu  Masih Hidup
                       - Nenek klien pihak ibu  Masih hidup      
     III                 : Jumlah saudara klien 1 orang,kline menderita penyakit diare dan sekarang dirawat di ruangan Baji Minasa
                     :  Perempuan  
   : L              : Laki – laki
7 bln
 


                        : Klien
IV. Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi
Waktu pemberian
Reaksi setelah pemberian
BCG
DPT ( I , II , III )
Polio
Campak
Hepatitis
1 bulan
2, 3 dan 4 bulan
1,2,3 dan 4 bulan
Belum diberi
Belum diberi
Demam
Tidak ada reaksi
Tidak ada reaksi
Belum diberi
Belum diberi

V.Riwayat Tumbuh Kembang
    a. Pertumbuhan fisik
        1) BB                  :7,3 kg
        2) Tinggi badan  :47 cm
        3) gigi klien belum ada yang tumbuh.
b.    Perkembangan Tiap Tahap
a. Pertumbuhan fisik
1)      Berat badan        : 7 kg.
2)      Tinggi badan      : 50 cm
b.Perkembangan tiap tahap
1. Berguling                    : 5 bulan
2. Merangkak                  : 6 bulan
3. Duduk                          : 6,5 bulan
4. Berdiri                          : Belum
5. Berjalan                       : Belum.
6. Senyum kepada ornag lain : 3 bulan
VI Riwayat Nutrisi
a.    Pemberian ASI
a)    pertama di beri saat bati lahir
b)    Cara pemberian                   : Setiap kali menangis dan tidak terjadwal.     
c)    Lama pemberian      : 15 – 20 menit.
b. Pemberian susu formula :
1)      Alasan pemberian   : karma ibu klien tidak memiliki ASI
2)      Jumlah pemberian  : 4x sehari
c.Pemberian makanan tambahan
a.    Pertama kali diberikan        :  5 bulan.
b.    Jenis                                     : Bubur milna
c.    Pola perubahan nutrisi tiap tahapan usia sampai saat ini :
No
Usia
Jenis nutrisi
Lama Pemberian
1.

2
0 – 5 bulan.
    
5 – 7 bulan
Asi

Lactogen
-  5 bulan

- 5 bulan

VII Riwayat Psikososial
a)    Ayah ibu dan klien tinggal di rumah Sendiri.
b)    Lingkungan berada di kota.
c)    Rumah klien dekat dengan Jalan umum.
d)    Tidak ada faktor yang bisa berbahaya seperti tangga.
e)    Hubungan antara keluarga harmonis.
f)     Klien dirawat dan diasuh oleh ibu dan ayahnya.
VIII Riwayat Spiritual
a)    Suport sistem dari keluarga : klien belum mengerti
b)    Kegiatan keagamaan           : klien belum mengerti
IX Riwayat Hospitalisasi
A.   Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
1.    orang tua klien membawa anaknya kerumah sakit karena yakin bahwa dirumah sakit anaknya akan ditolong oleh perawat dan dokter
2.    Dokter selalu menceritrakan kondisi anaknya saat visite
3.    Perasaan orang tua sangat cemas dengan keadaan anaknya
4.    orang tua selalu mendampingi  anaknya dirumah sakit
5.    Anak tinggal bersama orang tua dan sudaranya.
B.   Pemahaman anak tentang akit dan rawat inap
anak belum bisa memahami


X.           AKTIVITAS SEHARI – HARI
a.    Nutrisi
No
Kondisi
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
2.
Pemberian ASI
Frekuensi

Baik
4-5 x sehari
Kurang
4 – 5 x sehari


b. Cairan
No
Kondisi
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
2.
3.
4.
Jenis minuman
Frekuensi
Kebutuhan cairan
Cara pemenuhan
ASI
4 -5 x sehari
      2ooo cc
  Mengisap
ASI
2-3 x sehari
      1ooo cc
Mengisap

c,. Eliminasi
No
Kondisi
Sebelum sakit
Saat sakit
1.




2
BAB :
Frekuensi
Tempat pembuangan


Konsistensi

BAK :
Frekuensi

1 – 2 x sehari
Popok


Lunak


4 – 5 x sehari

5 – 6 x sehari
Popok


Encer  dan berampas

4 –5 x sehari

d. Istirahat Tidur
No
Kondisi
Sebelum sakit
Saat sakit

1.
2.
Jam tidur :
Siang
Malam

11.00 – 13.00
19.00 kadang - kadang

11.00 – 13.00
19.00 kadang - kadang

e.. Personal Hygiene
No
Kondisi
Sebelum sakit
Saat sakit
1.
2.
3.
4.
Cara
Frekuensi
Alat mandi
Cuci rambut
Dimandikan
2 x sehari
Sabun
1 kali seminggu
Belum pernah mandi





     XI. Pemeriksaan Fisik
a.    Keadaan umum klien : baik.
b.    Tanda – tanda Vital
-       Suhu        : 370 C
-       Nadi          : 120 x / menit
-       Pernapasan : 44 x / menit
c.    Antropometri
-       Tinggi Badan      : 47 cm
-       Berat Badan        : 7,5 kg
-       Lingkar Lengan  : 22 cm
-       Lingkar dada      :  37 cm
-       Lingkar perut      :   49 cm
-       Lingkar kepala    :   44 cm
d.    Sistem Pernapasan
-       Hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada sekret.
-       Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada tumor.
e.    Sistem Cardiovaskuler
-       Konjungtiva pucat
-       Ukuran jantung normal
-       Bunyi  jantung I : lub
-       Bunyi jantung dua :dub

f.     Sistem Pencernaan
-       Bibir          : Kering
-       Mulut        : Tidak ada stomatitis, kemampuan menelan baik
-       Gaster      : Tidak kembung,tidak terdapat nyeri tekan
-       Abdomen : Tidak ada pembesaran pada abdomen
-       Anus        : Agak kemerah-merahan
                        - Feaces encer dan berampas
                        - Warna feaces agak kekuning-kuningan
                        - Bau feaces busuk
                        - Feaces tidak berlendir,dan tidak terdapat adanya 
                         pendarahan
g.    Sistem Indra
-       Mata         : Tidak ada pembengkakan pada kelopak mata
-       Lapang Pandang : Belum bisa dikaji
-       Hidung       : Tidak ada trauma pada hidung, tidak   ada sekret yang menghalangi penciuman.
-       Telinga       : Keadaan daun telinga baik, tidak ada tanda – tanda infeksi




     h.   Sistem saraf
a.    Status mental ,daya ingat ,orientasi,perhatian dan perhitungan serta bahasa belum dapat dimengerti
b.    Kesadaran      :    E :4   V :5   M :6
c.    Fungsi cranial
                 - Nervus I     :  Belum bisa dikaji
                 - Nervus II    :  Belum bisa dikaji
                 - Nervus III   :  Klien dapat mengikuti obyek mainan pada 6 arah
                                        Dengan meggunakan mainan (kerincingan)
                 - Nervus IV   :  Mata dapat melihat kearah bawah
                 - Nervus  V    :  Refleks kornea (+)
                 - Nervus VI    :  Mata melihat kelateral
                 - Nervus VII   :  Tidak dikaji
                 - Nervus VIII  :  klien dapat menoleh kearah suara yang dibunyikan
                                         setinggi telinga
                 - Nervus  IX   :  Refleks muntah positif pada saat faring disentuh
                                         Spatel
                  - Nervus  x   :  Kemampuan menelan baik
                  - Nervus  XI  : Tidak dikaji
                  - Nervus XII  :  Klien mampu menggerakkan lidahnya kesegala
                                          arah. 



h.    Sistem Muskuloskeletal
-       Kepala     : Bentuk kepala bulat, klien bisa menggerakkan kepalanya.
-       Lutut         : Tidak ada pembengkakan pada lutut.
-       Kaki          : Tidak ada bekas luka
-       Tangan    : Tidak bengkak, klien bisa menggerakkan tangannya.

i.      Sistem Integumen
-       Rambut    : Belum terlalu tumbuh dan halus
-       Kulit          : Warna kulit kuning langsat, kulit nampak berkeringat,dan kotor
-       kuku pendek dan nampak kotor, tidak ada cianosis
j.      Sistem Endokrin
-       Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
-       Tidak ada bekas air seni dikelilingi semut
k.    Sistem Perkemihan
-       Tidak ada keluhan kelainan perkemihan.
XIV.      Therapi Saat Ini
Tanggal 08 – 09 – 2008:
- Terpasang infus RL 20 tetes/menit
- Syrup paracetamol 2 x sehari dosis 1 ½ cth. 
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pembahasan ini penulis akan mencoba Menguraikan  kesenjangan  antara  konsep teori dengan penerapan asuhan keperawatan pada kasus nyata. pada An. F dengan  Masalah Diare  yang dirawat di ruangan Perawatan anak Baji Minasa Rumah Sakit Umum Labuang Baji Makassar Pada tanga 13 november 2013 
     Untuk memudahkan dalam memahami kesenjangan yang ada, penulis membahas sesuai dengan urutan proses keperawatan. Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut.
A.   Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan merupakan dasar dalam proses keperawatan, dimana diperlukan pengkajian yang cermat untuk masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan serta merumuskan masalah kesehatan dalam bentuk diagnosa keperawatan.
Berdasarkan hal tersebut dan hasil dari pengkajian yang penulis lakukan pada An. F dimana penulis menemukan kesenjangan antara konsep teori dan studi kasus yang nyata.karena ada data yang ditemukan dalam konsep teori tetapi dalam studi kasus tidak ditemukan.,

untuk lebih jelas penulis akan mengurakannya sebagai berikut :
Data yang ada pada konsep teori tetapi tidak ditemukan pada studi kasus :
a.    Perubahan suhu tubuh.(Hipertermi)
Hal ini terjadi pada klien diare sebagai respon tubuh akibat proses infeksi pada usus.data ini muncul pada konsep teori akan tetapi pada studi kasus tidak terjadi peningkatan suhu tubuh,karena pada saat dilakukan pengkajian tidak ditemukan terjadinya hipertermi,suhu tubuh klien 37°c
b.    Kerusakan Integritas kulit (perianal) anus lecet/terjadi iritasi 
Hal ini terjadi karena peningkatan frekuensi buang air besar karena diaere yang mengakibatkan anus menjadi lecet atau teriritasi,namun ketika dilakukan pengkajian tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan integritas kulit perianal misalnya anus menjadi lecet atau kemerahan
c.    Berat badan menurun
Hal ini terjadi akibat kurangnya input makanan kedalam tubuh.namun ketika dilakukan pengkajian penulis tidak menemukan tanda-tanda penurunan berat badan,dan klien sering diberi ASI oleh ibunya.

d.    Turgor kulit berkurang
Hal ini terjadi karena peningkatan output yang berlebihan akibat diare.namun keadaan ini tidak ditemukan pada klien ketika dilakukan pengkajian ,karena klien  sudah menjalani perawatan sebelumnya.
Sedangkan data yang ditemukan pada studi kasus namun tidak ada dalam konsep teori adalah :
a.    Kuku nampak kotor,lidah tampak kotor
Hal ini terjadi karena kurangnya perawatan diri pada klien.data ini terdapat pada kasus namun tidak terdapat pada konse teori
b.    ibu klien nampak cemas
Hal ini terjadi karena koping kelurga tidak efektif.data ini tidak terdapat pada konsep teori namun ketika penulis melakukan pengkajian,penulis menemukan data ini pada klien






B.   Diagnosa Keperawatan
Menurut Doenges Marilynn  dalam buku  Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi 3). EGC. Jakarta.diagnosa keperawatan yang dapat terjadi pada klien dengan diare adalah:
  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan  muntah atau diare.
  2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan  muntah dan diare.
  3. Diare berhubungan dengan  iritasi usus, proses infeksi atau malabsorbsi usus.
  4. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan  seringnya defekasi dan iritasi pada daerah anal dan bokong.
  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan  kurangnya informasi mengenai perawatan di rumah.
Pada kasus nyata ditemukan 1 diagnosa keperawatan yang ada pada konsep teor yaitu :
1.    Devisit volume cairan berhubungan dengan dehidrasi.
hal ini terjadi karena klien sering berak-berak dan muntah.
sedangkan dua diagnosa yang ditemikan pada kasus namun tidak ada pada konsep teori yaitui:
1)    Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Hal ini karena pada saat melakukan pengkajian penulis mendapatkan data-data : ibu klien mengatakan kalau di mengkwatirkan anaknya,klien tampak rewel,ibu klien bertanya tentang keadaan anaknya.
2)    Gangguan Persoanl hygiene berhubungan dengan ketidaktahuan orang tua dalam merawa anak sakit
Hal ini terjadi karena kurangnya kebersihan diri klien akibat kurangnya motifasi keluarga untuk merawat anak sakit dan persepsi orang tua yang salah tentang anak yang sakit.
Dengan demikian tidak semua diagnosa yang ada dalam teori dapat ditemukan pada pasien yang dirawat dengan diare. Sebaliknya ada diagnosa yang ditemukan pada kasus namun tidak ada dalam teori. Hal ini disebabkan karena setiap manusia mempunyai respon yang berbeda terhadap suatu penyakit.
C.   Perencanaan
Perencanaan disesuaikan dengan teori yang ada dengan perolehan data dari diri klien serta sarana rumah sakit yang tersedia dan sesuai dengan format yang digunakan dalam proses keperawatan dan di dokumentasikan sesuai dengan tindakan keperawatan. Dalam tahap perencanaan ini tidak ada hambatan yang dirasakan, karena dalam menentukan perencanaan asuhan keperawatan ini dilakukan melalui langkah-langkah prioritas masalah, menetapkan tujuan, kriteria hasil dan merencanankan tindakan keperawatan sesuai dengan masalah yang dihadapi klien.
D.   Implementasi
Seluruh tindakan keperawatan yang dilakukan selalu berorientasi pada rencana yang telah dibuat terlebih dahulu dengan menagantisipasi seluruh tanda dan gejala yang timbul sehingga tujuan dapat terjadi.
E.   Evaluasi
Evaluasi adalah langkah akhir dari proses keperawatan, evaluasi bertujuan untuk menilai apakah tujuan berhasil atau belum atau sebagian berhasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dari evaluasi yang dilakukan pada klien didapatkan bahwa dari 3  masalah yang ditemukan pada  Klien An “ F “ semuanya dapat teratasi 
BAB V
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Setelah pembahasan landasan teori medis dan teori asuhan keperawatan, tinjauan kasus dan pembahasan dari pada klien dengan penyakit diare, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.    Pada pengkajian data, tidak semua gejala dalam teori dirumuskan dalam kasus nyata seperti demam, kram abdomen, oliguri dan anuria. Hal ini dipengaruhi oleh berat ringannya penyakit serta respon tubuh terhadap penyakit.
2.    Tidak semua diagnosa keperawatan dalam teori didapatkan dalam kasus nyata. Penentuan diagnosa keperawatan didasarkan pada kebutuhan atau masalah keperawatan yang dihadapi klien.
3.    Perencanaan keperawatan didasarkan pada diagnosa keperawatan yang telah disusun dan tidak bertentangan dengan konsep teori.
4.    pelaksanakan tindakan keperawatan berorientasi pada rencana yang telah dibuat dan diperlukan adanya kerjasama yang baik antara perawat, klien, keluarga serta tenaga kesehatan yang lain.
5.    Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan dimana dari ke 3 diagnosa yang diangkat semuanya dapat teratasi karena perawatan yang baik.





B.   Saran – saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran semoga dapat diterima atau menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit umum Labuang Baji Makassar yaitu sebagai berikut :
1.    Diharapkan agar dalam pelaksanaan pengkajian keperawatan harus dilakukan secara konpherensif dan sistematis sehingga memudahkan dalam menganalisa kemungkinan masalah-masalah yang ada dan mungkin timbul.
2.    Dalam menyusun rencana keperawatan sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan anak dengan melibatkan anak dan keluarga dalam pemyusunannya sehingga pelaksanaan proses keperawatan dapat berhasil sesuai dengan yang direncanakan.
3.    Diharapkan dalam penyusunan rencana keperawatan supaya sedapat mungkin mengikut sertakan klien dan keluarga sehingga mereka dapat lebih aktif dan mandiri dalam pemenuhan kebutuhannya.
4.    Diharapkan kepada rumah sakit agar dalam perawatan pasien anak pada umumnya dan diare pada khususnya supaya menerapkan proses kesehatan sebagai pendekatan yang digunakan dalam perawatan pasien. 
DAFTAR PUSTAKA
  
Betz, Cecily L, (2002), Buku saku Keperawatan Pediatri, edisi 3, EGC, Jakarta .
Carpenito, Linda Juall, (1998), Diagnosa Keperawatan dan Aplikasi Pada Praktek Klinis, edisi 6, EGC, Jakarta.

Doenges Marilynn E, (1999), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, EGC, Jakarta.
Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Nasrul Efendi, Drs, (1995), Pengantar Proses Keperawatan,  EGC, Jakarta.
Sacharin, Rosa M, (1993), Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2 , EGC, Jakarta.
Siregar, Dr, (1997), Ilmu Penyakit Anak, FKUI, Jakarta.
Suharyono, dkk, (1998), Gastroenterologi Anak Praktis, balai Penerbit FKUI, jakarta.
Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku ajar Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8 Volume 2, EGC, jakarta.
Suriadi dan Rita Yuliani, (2001), Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi 1, Penerbit: CV. Sagung Seto.
Hidayat Aziz Alimul A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. (Edisi

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. (Edisi 3). EGC. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar